Haedar Nashir : Tiga Filosofi Bambu Untuk Kemajuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 11 Oktober 2016 08:45 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, INDRAMAYU – Pimpinan Cabang Muhammadiyah Haurgeulis akhirnya meresmikan gedung baru kampus 3 SMK Muhammadiyah Haurgeulis yang diberi nama Gedung Giwangkara. Acara yang dilaksanakan di halaman kampus 3 SMK Muhammadiyah Haurgeulis tersebut dihadiri oleh Haedar Nashir Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Baidhowi, Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam kesempatan ini, Haedar Nashir memberikan sebuah tusyiah kepada warga Muhammadiyah Haurgeulis, sebelum menandatangani prasasti peresmian gedung Giwangkara.

Haurgeulis berasal dari kata Haur yang berarti bambu yang memiliki bentuk yang sempurna, dan Geulis yang artinya cantik, indah. Berkaitan dengan bambu, Haedar Nashir dalam tausyiahnya menyampaikan bahwa bambu memiliki tiga filosofi. Yang pertama bambu merupakan sumber tunas, ketika seseorang menebang bambu, maka dari bekas potongan tersebut akan tumbuh sebuah tunas baru. Dan Muhammadiyah Haurgeulis harus menumbuhkan tunas yang berkemajuan sebagai generasi baru penerus perjuangan amar ma’ruf nahi munkar.

Filosofi bambu yang selanjutnya adalah berumpun, ketika hidup dalam keragaman jika seseorang merasa egois tidak membangun silaturrahim dengan orang lain, maka tidak akan pernah mencapai kemajuan. “Muhammadiyah tumbuh besar karena kekuatan sistem, bukan karena kekuatan perorangan. Kekuatan dari perorangan dapat digantikan oleh generasi yang baru, maka ketika sebuah sistem yang hebat dipadukan dengan manusia yang unggul akan melahirkan peradaban yang maju” ungkap Haedar Nashir dalam tausyiahnya .

“Yang ketiga, bambu itu multifungsi. Tunas baru Muuhammadiyah harus menjadi rahmatan lil alamin dengan kemampuan yang dimiliki. Tunas baru Muhammadiyah harus memiliki multi keahlian demi menghadapi tantangan zaman. Dan Muhammadiyah mampu melakukan itu,” lanjutnya.

Dari kata Geulis, beliau juga menyampaikan sebuah filosofi. “Bangsa ini membutuhkan nilai – nilai sosial yang lembut dan luhur. Banyak orang yang kehilangan kelembutan, keramahan baik dari anak muda maupun orang tua,” ungkapnya.

Beliau menyatakan bahwa keadaan tersebut terlihat dari banyak orang yang mulai lupa untuk menjaga lisan, padahal menjaga lisan merupakan salah satu contoh kecil dari akhlaqul karimah. Maka dari itu, Muhammadiyah harus menjadi uswatun hasanah dalam menjaga lisan untuk membangun peradaban berkemajuan. “Sekolah – sekolah jangan hanya melahirkan manusia yang hanya mampu menjadi pekerja, namun sekolah harus melahirkan manusia yang mampu membangun peradaban,” sambungnya.

Diungkapkan oleh Haedar Nashir dalam tausyiahnya bahwa Muhammadiyah akan bekerjasama dengan pemerintah untuk membangun peradaban yang berkemajuan, yang salah satunya melalui pendidikan. “Jadi apabila pemerintah membantu Muhammadiyah maka bantuan tersebut akan dikembalikan kepada rakyat yang salah satunya melalui jalur pendidikan dalam rangka mencerahkan dan mencerdaskan bangsa,” katanya.

“Saya ingin Muhammadiyah lebih banyak bekerja untuk menghasilkan karya. Dan salah satunya adalah gedung ini, yang dapat dimanfaatkan untuk rahmatan lil alamin,” ungkap Haedar Nashir.

 

Kontributor : Nafis Ridhwan

Redaktur : Fauziah Mona

Berita Nasional

Shared:
Shared:
1