LPPM UMS Dampingi Petani Singkong Kingkong

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 10 Oktober 2016 18:01 WIB

SRAGEN, MUHAMMADIYAH.OR.ID -- Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerjasama dengan Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sragen, Jawa Tengah menanam singkong kingkong.

Penanaman perdana dilakukan Dr Bambang Suwignyo, Ketua Divisi Pertanian Terpadu Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Ahad (9/10/2016).

Dijelaskan Sekretaris LPPM UMS, Dr Muhtadi, singkong kingkong ditanam di lima desa yang tersebar pada empat kecamatan, Kabupaten Sragen. Yaitu, Desa Girirejo, Kecamatan Miri areal tanam 0,5 hektare; Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang seluas 0,2 hektare; Desa Jembangan, Kecamatan Plumpuh seluas 0,5 hektare; Desa Bumiaji, Kecamatan Gondang seluas 0,1 hektare; Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang seluas 0,5 hektare.

Kata Muhtadi, petani yang terlibat dalam penanaman singkong kingkong sebanyak 16 orang. “Banyaknya petani yang ikut serta dalam penanaman singkong kingkong karena melibatkan PRM (Pengurus Ranting Muhammadiyah) setempat,” katanya.

Pendampingan LPPM UMS, lanjut Muhtadi, dilakukan sejak mulai menanam, memelihara, dan pasca panen. Bahkan LPPM UMS menghubungkan petani dengan asosiasi petani singkong dan pabrik pengolahan singkong.

Dalam skala kecil, kata Muhtadi, pendampingan diarahkan pada diversifikasi produk olahan singkong. Hal ini untuk mengembangkan unit usaha di masyarakat berbasis olahan singkong seperti colenak, getuk, keripik hingga beras analog.

“Tadi sempat ketemu dan koordinasi dengan pengurus asosiasi singkong Indonesia, bapak Soekatno dari Wonogiri. Untuk penjualan pasca panen dan bermitra dengan industri pengolahan singkong di Wonogiri yang setiap harinya membutuhkan singkong 800 ton,” kata Muhtadi.

Selain mendampingi petani di Sragen, kata Muhtadi, LPPM UMS sudah mendampingi petani singkong kingkong di sejumlah daerah. Di antaranya, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); Boyolali, dan Solo. Ia mengharapkan penanaman singkong kingkong ini bisa diperluas lagi sehingga Indonesia bisa mencukupi sendiri kebutuhan singkong.

Sementara Bambang Suwignyo menjelaskan Indonesia masih impor sejumlah bahan pangan. Bahkan singkong pun masih impor dari Vietnam dalam jumlah sekitar 12 ribu ton per tahun.

Karena itu, kata Bambang, sejak dibentuk MPM, Muhammadiyah lebih banyak berkonsentrasi pada pemberdayaan petani. “Kalau dulu Muhammadiyah dikenal dengan sekolah, dan rumah sakit PKO, maka saat ini Muhammadiyah juga dikenal dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk peduli kedaulatan pangan,” tandasnya.

Warga Muhammadiyah, kata Bambang, harus menjadi pelopor dalam penyedia pangan nasional yang halal dan thoyib. Ini selaras dengan isi ayat 168, Surat Al Baqqoroh. Sehingga upaya menyediakan pangan nasional ini memiliki nilai ibadah.

Penanaman singkong kingkong (king of singkong) menjadi jenis singkong yang dikembangkan MPM karena prospek produksi yang menjanjikan. Dalam satu hektare hanya membutuhkan 2.000 - 2.500 batang bisa menghasilkan dua kali lipat dibandingkan singkong biasa.

“Selain prospek tersebut, dengan jarak tanam dua meter di sela-sela singkong masih bisa ditanami kacang tanah, dan sayuran dalam konsep integrasi. Kalau ini menjadi praktek bagi seluruh petani Indonesia, maka insya Allah Muhammadiyah akan berkontribusi riil pada Indonesia untuk berdaulat pangan minimal dari aspek singkong,” kata Bambang. (dzar)

 

 

Penulis : Heri Purwata

Shared:
Shared:
1