Sistem Rekrutmen Tidak Sehat, Timbulkan Perilaku Rakus Politikus

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 01 Oktober 2016 09:54 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL- Salah satu penyebab tingginya kasus korupsi di Indonesia disebabkan buruknya sistem rekrutmen oleh partai politik. Sehingga menimbulkan proses kaderisasi yang tidak sehat di dalam partai politik tersebut.

Disebutkan oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Afnan Hadikusumo, terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki dalam pencegahan perilaku korupsi pada politikus, salah satunya yaitu dengan meningkatkan sistem rekrutmen yang baik, proses kaderisasi yang baik, serta mencerahkan masyarakat agar tidak mudah masuk dalam pengaruh politik yang berhujung pada korupsi.

“Sistem rekrutmen yang tidak sehat, akan menimbulkan perilaku rakus (korupsi) politikus, hal ini penting untuk diperbaiki,” ucap Afnan, Jumat (30/9) dalam acara diskusi bulanan bersama LHKP Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Satgas Muda Anti Korupsi Muhammadiyah yang bertempat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Kembali dilanjutkan Afnan, jaringan korupsi yang menyangkut politik sangatlah berbahaya. “Jaringan tersebut sangat terstruktur dan masif, sehingga efeknya menjadi luarbiasa, karena dapat memiskinkan jutaan rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Acara yang mengangkat tema “Gurita Korupsi Politik di Indonesia” tersebut juga menghadirkan Bambang Eka Cahya Widodo, Mantan Ketua Bawaslu periode 2008-2012. Bambang mengatakan, salah satu hal yang tidak banyak disadari oleh rakyat sebagai perilaku korupsi adalah dengan adanya money politics.

“Akar persoalan yang paling mendasar adalah money politics. Secara tidak langsung rakyat yang menerima uang politik untuk memilih salah satu kandidat kepala daerah itu adalah tindakan korupsi,” ucap Bambang.

Bambang juga menambahkan, masyarakat saat ini memang sangat bersemangat untuk menyuarakan anti korupsi. Namun tak jarang masyarakat juga yang berperilaku korupsi. “Masyarakat seolah-olah menolak korupsi besar, namun mereka melakukan korupsi kecil,” tegas Bambang.

Bambang berharap agar masyarakat dapat memahami arti suatu sistem politik. “Jika masyarakat dapat mencerahkan diri sendiri dalam perilaku korupsi, maka kedepannya rangkaian tindak korupsi akan dapat semakin ditekan dan bahkan tidak akan terjadi kembali,” tutup Bambang. (adam)

 

Kontributor: Bobby Gilang

Foto: Abey Mukti

Shared:
Shared:
1