RSI PKU Muhammadiyah Tegal Adakan Pelatihan Konseling Menyusui

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 29 September 2016 09:19 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, ADIWERNA- Berdasarkan penelitian kandungan gizi pada ASI (Air Susu Ibu) merupakan anugerah yang tidak tergantikan untuk bayi. Namun kenyataanya saat ini ASI cenderung digantikan oleh susu formula, yang notabene tidak cocok untuk bayi.

“Sekarang ini, kampanye susu formula untuk menggantikan ASI semakin gencar. Padahal, berdasarkan penelitian, kandungan gizi pada ASI sudah cukup bagi bayi baru lahir hingga usia enam bulan," jelas Hesti Tobing, penanggung jawab Program Perkumpulan Perinatologi Indonesia Pusat (Perinasia), Selasa (27/9), dalam acara Konseling Menyusui yang diselenggarakan oleh RSI PKU Muhammadiyah Singkil, Adiwerna, Kabupaten Tegal.

Kembali dilanjutkan Hesti, terdapat empat prosedur WHO yang selama ini kurang diketahui masyarakat. Yakni inisiasi menyusui dini (IMD) segera setelah bayi lahir, ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI setelah usia bayi enam bulan, dan rekomendasi untuk tetap menyusui hingga bayi berusia dua tahun atau lebih.

Melalui kegiatan konseling tersebut,Hesti berharap para bidan maupun tenaga kesehatan terkait, wajib hukumnya untuk membantu setiap ibu agar bisa menyusui bayinya dan sang bayi juga bisa menyusu ke ibunya.

"Wajib bagi para bidan untuk dapat memberikan pengarahan bagi ibu yang sedang menyusui," pungkas Hesti.

Sementara itu, direktur RSI PKU Muhammadiyah Kabupaten Tegal, Achmad Sochibul Birri menguraikan, pelatihan konseling menyusui yang akan digelar sejak tanggal 26 hingga 30 September tersebut diikuti oleh bidan dan perawat dari berbagai rumah sakit. Selain dari Kabupaten Tegal, kegiatan itu juga diikuti oleh peserta dari rumah sakit-rumah sakit di Kota Tegal, Bumiayu, Brebes dan Batang.

Kembali dilanjutkan Achmad, materi dari konseling tersebut nantinya akan dipaparkan olehPerkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia) Pusat. "Nantinya para peserta akan mendapatkan pembekalan dan juga praktek konseling menyusui sesuai dengan standar World Health Organization (WHO), Unicef, serta Kementerian Kesehatan RI," pungkasnya.

“Bagi yang lulus pelatihan akan mendapatkan sertifikat dan berhak menjadi konselor menyusui. Dengan demikian, tenaga medis yang membantu para ibu menyusui merupakan SDM-SDM yang sudah terlatih dan berkompeten sehingga tidak asal-asalan," tutupnya. (adam)

Kontributor:  Hendra/MF /MPI PDM KAB TEGAL

Berita Daerah

 

 

Shared:
Shared:
1