Perjalanan Literasi Muhammadiyah yang Panjang

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 27 September 2016 20:08 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang mencerahkan memiliki cita-cita untuk memberantas kebodohan bangsa. Ini terlihat dari salah satu misinya menjadikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat ilmu dan melek informasi.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut, Muhammadiyah menilai, diperlukan media publikasi yang dapat membagikan informasi dan gagasan-gagasan Muhammadiyah kepada masyarakat luas terutama pada kader Muhammadiyah. Namun bagaimanakah Muhammadiyah merealisaikan cita-citanya itu?

Muhammadiyah, menurut Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhamamdiyah, Abdul Mu’ti, tidak hanya menginginkan masyarakat agar melek informasi, tetapi juga menginginkan agar masyarakat mampu mengkaji informasi yang mereka dapatkan. Ini seperti disampaikan dalam keputusan Muktamar Muhammadiyah yakni untuk membangun taman bacaan atau perpustakaan di ranting-ranting Muhammadiyah.

Di taman bacaan itu, kata Mu’ti, masyarakat atau warga Muhamamdiyah dapat mengakses informasi dengan mudah dan dapat mendiskusikannya seksama. Taman bacaan itu diharapkan mendorong warga agar tahu kemana mereka memperoleh informasi.

Tujuan mulia ini, ia mengatakan, perlu didukung oleh semua pihak terutama Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah yang bertugas mengelola sekaligus menyebarkan informasi gagasan-gagasan baik yang dimiliki Muhammadiyah ataupun pemikiran lain yang bermanfaat.

Muhammadiyah tidak hanya bercita-cita saja. Nyatanya, doktor pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini memberitahukan, geliat pergerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan cita-citanya dalam literasi, terlihat dari usaha Muhammadiyah mengembangkan media sejak awal berdirinya Muhammadiyah. Dia juga menilai media merupakan salah satu sumber informasi yang penting bagi Persyarikatan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini.

Mu’ti menuturkan, Muhammadiyah telah memiliki media sejak adanya Majelis Pustaka dan Informasi biasa disingkat MPI yang dulu dikenal dengan sebutan Bagian Taman Pustaka. Majelis ini menjadi salah satu majelis tertua, karena sejak awal berdiri Muhammadiyah sudah terbentuk.

PP Muhamamdiyah sendiri memiliki media cetak yaitu Majalah Suara Muhammadiyah. Majalah ini hadir sejak tahun awal-awal Muhammadiyah berdiri yaitu pada 1915. Dan, kata Mu’ti, Suara Muhammadiyah bisa dikatakan sebagai majalah tertua yang dimiliki oleh organisasi Islam di Indonesia. Bahkan, majalah yang terbit dua bulan sekali ini, masih tetap bertahan dan hadir senantiasa menemani pembaca setia Muhammadiyah se-Nusantara.

Suara Muhammadiyah pun terus eksis dan produktif mencetak. Tak hanya itu, Suara Muhammadiyah juga memiliki penerbit buku yang terus memproduksi buku-buku keislaman dan kemuhammadiyahan. Khusus untuk majalah Islam, Suara Muhammdiyah ini, terang Mu’ti, telah mampu mencetak hingga 40.000 eksemplar dalam sekali terbit yang kini diproduksi di Yogyakarta. “Itu sebenarnya sudah sangat sehat untuk sebuah media cetak,” ujar Mu’ti di hadapan pimpinan perusahaan dan redaksi Republika dalam pertemuan Penandatangan Nota Kesepahaman dengan Republika terkait pubikasi dan informasi Persyarikatan Muhammadiyah dan amal usaha Muhammadiyah, di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat, 23 September 2016.  

Selain Suara Muhammadiyah, PP Muhammadiyah memiliki Majalah Tabligh yang memang dikelola oleh Majelis Tabligh. Majalah ini hanya menyediakan dalam jumlah kecil namun cukup dikenal terutama oleh para mubaligh Muhammadiyah.

Disamping media cetak, PP Muhammadiyah juga memiliki amal usaha pertelevisian yaitu TV Muhammadiyah atau TVMu. Media ini membantu masyarakat mendapatkan informasi Muhammadiyah melalui media audio dan visual yang diakses dengan sambungan televisi digital atau dengan saluran internet, streaming. TVMu menghadirkan berita-berita kegiatan Muhammadiyah, isu umum, program edukasi dan juga hiburan yang bersifat mendidik.  

Bersamaan dengan berjalannya media PP Muhammadiyah dalam skala nasional, terdapat pula media di ranting, daerah, dan wilayah Muhammadiyah yang menyajikan berita daerah. Juga, media yang terdapat di beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah.

Muhammadiyah pun memiliki cita-cita ingin membagikan publikasi secara gratis kepada masyarakat. Dan ini telah dilakukan Muhammadiyah melalui MPI dengan adanya website resmi atau media online Muhammadiyah yaitu www.muhammadiyah.or.id. Dengan adanya media online ini, masyarakat dapat mendapatkan informasi dari Muhammadiyah secara gratis dengan mengakses internet.

Walaupun Muhammadiyah memiliki media online yang terus berjalan dan membantu masyarakat mendapatkan informasi, menurut Mu’ti, taman baca atau perpustakaan tetap saja dibutuhkan oleh masyarakat. Karena, dalam media online, masyarakat masih kehilangan dua sisi penting dari suatu informasi.

“Kehilangan kedalaman dan keluasan dari informasi itu. Akhirnya orang menarik informasi instan,” jelas Mu’ti menyoal kekurangan media online. Dengan demikian, ujar Mu’ti, masih saja ada hal yang tidak dapat tergantikan oleh media online. Misalnya, bertemu secara fisik dengan para pecinta buku yang datang ke perpustakaan. “Itu sesuatu yang tidak bisa digantikan,” kata dia.

Selain itu, papar Mu’ti, terdapat diskusi-diskusi ilmiah yang dapat diselenggarakan oleh taman baca atau perpustakaan. Dan, taman baca dapat menjadi sarana untuk melakukan kajian mendalam terhadap sebuah karya atau informasi yang beredar. Karena di sana terdapat buku sebagai sumber data dan informasi yang dapat dijadikan sebagai studi pustaka. Ini, kata Mu’ti menjadi ciri khas dari taman baca atau perpustakaan.  

Sehingga, menurutnya, literasi tidak hanya melek informasi namun juga memiliki kemampuan untuk mendalami informasi. Kemudian, masyarakat memiliki pemikiran dan sikap sebagaimana Abdul Mu’ti menyebutnya untuk juga memiliki agenda what next atau agenda ke depan dan agenda what to be done atau agenda yang dapat dilakukan saat ini setelah menelaah informasi.

“Di sinilah sebenarnya peran pustaka yang memang sangat sentral dalam membangun nalar kritis,” kata Mu’ti menyikapi peran perpustakaan untuk menghasilkan masyarakat ilmu sebagaimana yang dicita-citakan oleh Muhammadiyah.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

 

Shared:
Shared:
1