Muhammadiyah Buka Sekolah Darurat Korban Bencana di Sumedang

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 27 September 2016 07:44 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG -- Di tengah-tengah dampak bencana banjir dan tanah longsor, pendidikan anak-anak tetap mesti berjalan. Muhammadiyah Kabupaten Sumedang akhirnya berinisiatif membuka sekolah darurat di posko bantuan bencana Sumedang, Senin, (26/9).

Posko bantuan bencana Sumedang berlokasi di dua tempat. Pertama di GOR Tadjimalela dan kedua di Makodim 0610 Sumedang. Sementara itu, sekolah darurat yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sumedang terdapat di Makodim 0610 Sumedang.

“Sekolah darurat didirikan oleh relawan Muhammadiyah dengan tujuan untuk memulihkan mental anak anak korban bencana,” ujar Wakil Ketua PDM Kabupaten Sumedang, Supala kepada Muhammadiyah.or.id, Selasa (27/9). Ia mengatakan, terdapat 240 anak korban bencana yang mengikuti pendidikan di sekolah darurat ini.

Supala menambahkan, anak-anak ini mendapatkan pemulihan mental dari para guru yang berasal dari relawan Muhammadiyah. Sebab, trauma bencana ini membekas dalam memori anak-anak sehingga diperlukan terapi untuk menghilangkan trauma bencana tersebut.

"Melalui pendidikan pemulihan mental yang dilakukan sukarelawan dari Muhammadiyah setidaknya mengurangi trauma ini," kata Supala.

Pengungsi yang berada di Markas Kodim 0610 Sumedang sepenuhnya dikelola oleh Muhammadiyah. Jumlah pengungsi di Gor Tadjimalela sebanyak 1.027 orang. Sementara pengungsi yang berada di Markas kodim sebanyak 386 orang.

Supala mengatakan, bantuan yang diharapkan saat ini berupa bantuan alat pendidikan dan keperluan sekolah anak-anak bagi korban bencana. "Bantuan logistik seperti makanan dan minuman siap saji pun masih minim dan sangat dibutuhkan pengungsi di lokasi pengungsian," ujar dosen STAI Muhammadiyah Bandung ini.

Selain bantuan materi, di lokasi pengungsian pun dibutuhkan banyak relawan untuk membantu korban.

Dari data yang tercatat, pada Senin (26/9) sekolah awal dimulai dengan diikuti sebanyak 196 anak atau siswa. Hari ini pun, sekolah darurat ini masih digelar oleh PDM Sumedang.

"Guru gurunya yang siap berjumlah 20 orang dari unsur angkatan muda Muhamadiyah terutama Nasyiatul Aisyiyah dan Aisyiyah," terangnya.

Metode yang digunakan dalam sekolah darurat ini, kata dia, adalah metode membangkitkan mental, keceriaan motivasi dan lainnya. "Dengan bermain riang gembira, kelas ditenda dan di lapangan."

Supala memberitahukan, lamanya sekolah darurat digelar yakni sampai selesainya penanggulangan bencana di Sumedang dan pengungsi atau anak-anak bisa kembali ke rumahnya masing masing. Yaitu setelah rumah pengungsi disiapkan atau didirikan kembali.

Reporter: Ilma Aghniatunnnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1