Geliat Muhammadiyah di Negeri Sakura

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 19 September 2016 12:44 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.IR, JEPANG- Perkembangan Islam di Negeri Jepang tidak lah secepat perkembangan Islam di Negara Eropa, hal ini dikarenakan akulturasi budayanya tidak secepat di Negara Eropa.

Umat muslim di Jepang masih minoritas, jika dibandingkan antara penduduk Jepang yang beragama muslim, dengan pendatang muslim yang ke Jepang, jumlahnya lebih besar pendatang muslim yang ke Jepang dibandingkan dengan penduduk asli Jepang.

Melihat hal tersebut, Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah turut mengambil peran dalam menguatkan dan menyebarkan dakwah ke Negeri Sakura tersebut (Nama lain negara Jepang) yaitu dengan mendirikan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Jepang (PCIM Jepang) pada 12 Agustus tahun 2007, bertempat di sekretariat Japan Muslim Assosiation, Kota Tokyo yang diikuti sebagian besar masyarakat Indonesia dan Muslim Jepang yang tergabung dalam Japan Muslim Assosiation.

“Bahkan mantan Presiden Japan Muslim Assosiation, Professor Khalid Higuchi Mimasaka dan beberapa anggota Muslim Jepang lainnya telah menjadi anggota Muhammadiyah dengan mempunyai Nomor Baku Muhammadiyah, yang mana saat ini juga menjabat sebagai Ketua Penasehat Muhammadiyah Jepang,” tutur Muhammad Kunta Biddinika, Sekretaris PCIM Jepang ketika bertandang ke redaksi website Muhammadiyah.or.id, Jumat (16/9).

Kembali dilanjutkan Kunta, PCIM Jepang merupakan duta dakwah Muhammadiyah di luar negeri yang berhasil merekrut Muslim asing seperti Muslim Jepang di tengah arus budaya Jepang dan globalisasi yang begitu kuat.

“Muhammadiyah di Jepang memiliki daya tarik tersendiri bagi muslim yang berada di Jepang, maupun masyarakat Jepang pada umumnya. Ketertarikan tersebut terkait dengan gerakan dakwah Muhammadiyah yang cukup berhasil melalui lembaga kesehatan maupun pendidikannya,” lanjut Kunta.

Kembali ditambahkan mahasiswa doktoral Tokyo Institute of Tehnology tersebut, dakwah Muhammadiyah di Jepang difokuskan pada lokasi-lokasi yang komunitas masyarakat Indonesianya terbanyak, yaitu Ibaraki, Nagoya, Numazu, Kawaguchi dan Ebina. “Sebenarnya komunitas masyarakat Indonesia di Jepang tersebar hampir di seluruh Jepang. Mayoritas mereka adalah pekerja atau trainee yang datang ke Jepang untuk “bekerja” dengan kontrak kerja selama 3 tahun, legal dan illegal. Disusul kemudian adalah pelajar dan setelah itu ibu rumah tangga yang menemani para suami belajar, peneliti, dan profesional,” tambah Kunta.

Saat ini yang masih menjadi kendala bagi anggota Muhammadiyah Jepang yaitu terkait dengan rutinitas silaurahim. “Akibat masing-masing anggota yang memiliki kesibukan tersendiri, kami dalam melakukan silaurahim maupun mengagendakan kegiatan untuk PCIM Jepang lebih dengan memanfaatkan media teknologi, dibanding bertemu secara langsung, jarak yang cukup jauh juga menjadi kendala tersendiri,” tutur Kunta.

Kunta menambahkan, harapan kedepannya PCIM Jepang dapat mendirikan lembaga amal zakat dan sodaqoh (Lazismu) Jepang, guna memudahkan masyarakat muslim Jepang maupun warga Muhammadiyah yang berada di Jepang dalam menyalurkan zakat dan sodaqohnya.

“Selama ini terkait dengan pengumpul dan penyaluran zakat maupun sodaqoh bagi masyarakat muslim Indonesia di Jepang dikelola oleh Ikatan Keluarga Muslim Indonesia di Jepang, harapan kedepannya PCIM juga dapat mendirikan Lazismu Jepang,” ucap Kunta.

Ketika disinggung mengenai isu toleransi di Jepang, Kunta menjelaskan bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai keberadaan Muhammadiyah, maupun masyarakat muslim pada khususnya. “Sejauh ini belum ada masalah dalam hal keberadaan Muhammadiyah maupun masyarakat muslim itu sendiri di Jepang, masyarakat Jepang cukup baik dalam hal toleransi,” ujarnya.

Diakhir Kunta berharap agar gerak dakwah Muhammadiyah di Jepang akan semakin luas. “Pentingnya Muhammadiyah Jepang untuk melebarkan area dakwahnya tidak hanya kepada orang Indonesia yang ada di Jepang saja, tetapi juga kepada orang Jepang itu sendiri. Semenjak didirikannya, Muhammadiyah cabang Jepang ini memang baru berkonsentrasi pada dakwah internal warga Muhammadiyah di Jepang itu sendiri,” tutupnya. (Adam)

Berita Internasional

Shared:
Shared:
1