Kisah Arya, Dalang Cilik siswa SD Muhammadiyah 1 Surakarta

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 19 September 2016 06:36 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA- Melestarikan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia pada dasarnya merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat, ditengah pesatnya perkembangan zaman dan tantangan masuknya budaya asing ke Indonesia.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Nindya Arya Hastungkara, siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 1 Surakarta tersebut turut melestarikan budaya Indonesia dengan menjadi seorang dalang cilik. Ketertarikan Arya berawal dari melihat kakeknya, Ki Blacius Subono yang juga merupakan seorang dalang.

"Awalnya sering nonton kakek pentas wayang kulit, lama-kelamaan juga penasaran dan tertarik untuk memainkannya," ucap Arya ketika ditemui redaksi website Muhammadiyah.or.id, Sabtu (17/9) setelah bermain wayang kulit dalam acara Pentas Wayang Kulit Joglo Sriwedari.

Selain itu, siswa yang telah mulai menjadi dayang cilik sejak kelas 3 SD tersebut tertarik bermain wayang dikarenakan kecintaanya terhadap budaya Indonesia. "Saya juga tertarik main wayang karena ingin melestarikan budaya Indonesia, dan bentuk cinta saya terhadap budaya Indonesia," lanjutnya.

Arya pun telah beberapa kali berkesempatan untuk mengikuti perlombaan dalang cilik dan juga pentas wayang kulit di berbagai daerah. "Untuk kedepannya ingin bisa main wayang ke seluruh Indonesia dan bahkan sampai keluar negeri, kalau memang ada kesempatan," ujar Arya.

Putra pasangan Beni Nugroho dan Rekian Restuningtyas tersebut butuh waktu persiapan selama dua minggu sebelum pementasan. "Kalau latihan ya setiap hari, tapi kalau mau pentas biasanya latihannya lebih intensif selama dua minggu sebelum pentas maupun lomba," kata Arya.

Kembali ditambahkan Arya, lakon wayang yang kerap dimainkannya yaitu bercerita tentang bocah sekolah. "Pesan dari lakon yang sering saya mainkan yaitu untuk mengajak anak-anak berperilaku positif ketika di sekolah," tambahnya.

Ditengah majunya teknologi informasi, baik dalam perkembangan gadget mapun alat-alat teknologi lainnya, siswa kelahiran Surakarta, 27 April 2005 tersebut mengaku tidak terpengaruh dan kurang begitu suka dalam hal menggunakan gadget. "Kurang begitu suka main gadget, padahal teman-teman rata-rata hobby sekali main gadget, lebih asik main wayang," ucapnya.

Diakhir, Arya turut berpesan kepada siswa-siswi Indonesia untuk terus mencintai dan melestarikan budaya-budaya yang dimiliki oleh Indonesia, khususnya wayang. "Mari kita sama-sama mencintai budaya Indonesia, agar lebih dikenal oleh negara lain, dan supaya budaya Indonesia tetap lestari sampai kapan pun," tutupnya. (adam)

 

Shared:
Shared:
1