Muhadjir Effendy : Kartu Indonesia Pintar Merupakan Cerminan Spirit Al-Maun

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 07 September 2016 06:37 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BENGKULU- Indonesia saat ini masih memiliki berbagai permasalahan yang belum terselesaikan, salah satunya yaitu terkait dengan kesenjangan, termasuk pendidikan.

Pemerintah dalam mengatasi kesenjangan tersebut memiliki solusi dengan membuat program Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Indonesia Sejahtera.

“Kartu Indonesia Pintar merupakan bentuk cerminan dari semangat Al-Maun, yang mana merupakan spirit Muhammadiyah dalam berdakwah,” ucap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy ketika memberikan keynote speech dalam Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Muhammadiyah, Selasa malam (6/9) bertempat di Kantor Gubernur Provinsi Bengkulu.

Kembali dilanjutkan oleh Muhadjir,  anak yatim yang dimaksud dalam surah Al-Maun bukan berarti ditinggal mati orangtuanya, melainkan semua anak yang terlantar itulah anak yatim.

“Termasuk anak-anak yang dimana orangtuanya tidak berdaya untuk menyekolahkan anaknya itu termasuk kategori anak yatim,” lanjut Muhadjir. Bahkan anak yang ditinggal oleh orang tuanya belum tentu menjadi anak yatim, jika orang tuanya ketika meninggal memiliki harta yang berlimpah dan dapat digunakan oleh anaknya.

Kembali dijelaskan oleh Muhadjir, Mengapa dalam surah Al-Maun menekankan pentingnya kita berpihak dalam membantu anak yatim dan anak terlantar ?

“Karena itu merupakan ancaman terjadinya generasi yang hilang,” jelas Muhadjir.

“Generasi yang hilang adalah apabila anak seseorang yang dari keluarga tidak beruntung dia akan menjadi keluarga yang tidak beruntung lagi. Contohnya ketika ada keluarga yang miskin, dan kemudian anaknya mengikuti jejak orang tuanya hidup dalam kemiskinan, itulah arti dari generasi yang hilang,” lanjut Muhadjir.

“Pemerintah bersama-sama dengan Muhammadiyah harus turut mengambil peran dalam mengentasi permasalahan generasi yang hilang ini, agar generasi muda Indonesia tidaklah berfikir pragmatis untuk mengikuti jejak orang tuanya yang bergelut dalam kesenjangan,” tutup Muhadjir. (adam)

Berita Nasional

Shared:
Shared:
1