Lima Pilar Islam Berkemajuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 06 September 2016 11:11 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, TEGAL– Ada yang menarik yang bisa kita ulas bersama berkaitan dengan tema besar Muktamar Muhammadiyah yang ke-47 di Makassar pada tahun lalu. Mengangkat tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Pada tausiyah yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Kramat I Ahad (4/9) dengan pembicara Faozan Amar, sekretaris Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan PusatMuhammadiyah, pada acara pelantikan PCM dan PCA Kramat I.

Dalam tausiyahnya, Faozan Amar membahas lima pilar Islam berkemajuan. “Ada lima pilar Islam berkemajuan, yaitu : (1) tauhid murni, (2) pendalaman Al-Quran dan Sunnah, (3) amal shaleh fungsional dan solutif, (4) berorientasi kekinian dan masa depan, (5) toleran, moderat, dan suka bekerjasama,” jelas Faozan.

Faozan mengatakan bahwa tauhid merupakan doktrin sentral Islam dan pintu gerbang Islam. Dengan Tauhid menurutnya, manusia mendapatkan kekuatan dan kemerdekaan dalam hidup seperti dalam  Q.S. An-Nahl: 99-100.

“Iman adalah tameng yang kuat bagi seorang mukmin untuk mempertahankan dirinya dari serbuan setan.Kemurnian Tauhidlah yang telah menjadi sumber kekuatan Muhammadiyah untuk melawan semua bentuk penindasan dan ketidakadilan,” katanya.

Pemahaman terhadap al-Qur’an dan Sunnah harus tetap terbuka.Dengan pemahaman yang luas kehidupan beragama menjadi mudah, lapang dan terbuka.Puluhan ribu amal usaha Muhammadiyah lahir karena tuntutan dan inspirasi al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

“Iman tidak sempurna tanpa amal saleh.Amal salehbukan hanya ibadah, tapi semua karya yang bermanfaat dan merefleksikan kerahmatan Islam dan kasih sayang Allah serta solutif. Tajdid tak hanya bersifat intelektual, tetapi gerakan amal,” ungkap alumni Uhamka ini.

Faozan mengajak  untuk melihat Islam sebagai realitas kekinian dan kedisinian. Menjadikan realitas konteks situasi dan kondisi utuk merancang masa depan yang lebih baik.

Dalam hal toleran, moderat, terbuka dan suka bekerjasama, contohlah kisah Ahmad Dahlan saat meluruskan kiblat. Beliau tetap menjagakeseimbangan purifikasi dan modernisasi; tidak berpikiran & bersikap ekstrem,” tutup Faozan.

 

 

Kontributor:  Riza A. Novanto

Redaktur : Fauziah Mona

 

Berita Daerah

 

 

 

 

Shared:
Shared:
1