Zainul Majdi Pandang Perbedaan Sebagai Kebaikan dan Kemuliaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 04 September 2016 16:14 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PB Nahdlatul Wathan, Zainul Majdi memandang, ukhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Terlebih lagi jika yang berukhuwah itu adalah para tokoh, pemimpin atau pun organisasi Islam itu sendiri.

Karena, kata dia, jika terjalin ukhuwah di antara para pemimpin, maka umat akan meniru apa yang dicontohkan oleh pemimpinnya. Apalagi jika dalam pertemuan para pemimpin itu membahas mengenai persoalan umat.

“Maka saya yakin betul banyak lapisan organisasi masing-masing akan berukhuwah, karena pemimpinnya berukhuwah. Kalau kita pemimpin jarang bertemu, jarang mengundang, umat menganggap putusnya ukhuwah,” ujar Zainul menyikapi agenda silaturahim yang dilakukan pada Pengajian Bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan mengusung tema “Memperkuat Ukhuwah dan Kerjasama Umat Islam untuk Indonesia Berkemajuan” di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (2/9).

Ukhuwah, menurut Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, perlu dilandasi oleh sikap hati dan kesadaran terhadap agenda umat terutama di Indonesia. Itu memerlukan kesadaran di antara organisasi-organisasi Islam untuk menyelesaikan permasalahan umat bersama-sama. Karena permasalahan ini, ujar Zainul, tidak bisa selesai hanya dengan berjuang masing-masing.

Selain itu, dalam membangun kesadaran terhadap persoalan umat, papar Zainul, harus ada juga kesadaran bahwa di antara ormas yang satu dan yang lainnya tentu terdapat perbedaan. Dan, perbedaan ini dipandang bukan untuk menjauhkan dan menjadi jarak antar organisasi Islam.

“Wacana yang dikembangkan itu sering dimaknakan umat bahwa perbedaan itu sesuatu yang destruktif, padahal ini kebaikan dan kemuliaan,” kata Zainul di hadapan para tokoh ormas Islam dan warga Muhammadiyah.

Zainul pun menganggap, perbedaan madzhab yang dianut oleh organisasi-organisasi Islam di Indonesia bukanlah menjadi hal yang harus diperdebatkan. Karena madzhab tersebut, menurutnya, bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan pada tempat dan kondisinya masing-masing.

Dalam pengajian PP Muhammaidyah ini, Zainul mengatakan, selain proses kesadaran terhadap perbedaan, pengetahuan mendalam dan pemahaman mengenai khasanah pengetahuan Islam juga perlu dilakukan.

Zainul menyadari bahwa terdapat peribadatan, kepercayaan dan kebiasaan masyarakat Islam Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah Islam. Itu, ujar dia, merupakan kepercayaan yang dianut pada masa kemunduran Islam dan masih dilakukan secara turun temurun hingga kini.

“Semua khazanah keilmuan itu pada saat yang sama adalah produk budaya,” ujarnya.

Jika pemahaman ini dapat direalisasikan, kata Zainul, akan meningkatkan keislaman umat. Karena menurutnya, perbedaan inilah yang menjadi kekayaan budaya masyarakat di Indonesia.

Sebagai pemerkuat ukhuwah organisasi Islam, tutur Zainul, perlu dilakukan realisasi seperti mengadakan agenda bersama. Misalnya agenda untuk memperkuat ekonomi umat. Seperti yang telah dilakukan olehnya dalam meningkatkan ekonomi masyarakat NTB.

“Sampai 21 %. Itu buah dari kerja bersama umat yang ada di NTB,” kata Zainul mengenai peningkatan ekonomi di NTB.

“Kita perlu saling berbagi cara-cara membangun,” kata Zainul ihwal kerjasama untuk saling bahu membahu antar organisasi Islam dalam mencapai Indonesia yang berkemajuan. 

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1