Terdapat Tiga Gerakan Utama yang Harus Dilakukan Nasyiah dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 25 Agustus 2016 15:47 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA- Muktamar  adalah suatu permusyawaratan tertinggi dalam sebuah organisasi dalam memilih dan menentukan kebijakan untuk lima tahun kedepan. Akan tetapi sejatinya Muktamar merupakan suatu ajang yang akan mempererat tali silaturahim antar sesama, khususnya bagi peserta muktamar.

Sekretaris PP Muhammadiyah, Agung Danarto mengatakan. “Muktamar merupakan ajang silaturahim, kekeluargaan, dan juga kegembiraan”, ujarnya saat memberikan amanat sekaligus membuka Tanwir Nasyiatul Aisyiyah (NA) Kamis (25/8) di Islamic Center Univeritas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Dalam muktamar kali ini Nasyiah mengangkat tema yang bertajuk “Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan untuk Kemandirian Bangsa”, yang dimana artinya NA berusaha untuk mendorong kekuatan perempuan muda dalam berbagai aspek agar terciptanya kemandirian bangsa yang berkemajuan.

Berkaitan dengan tema tersebut, Agung mengungkapkan  ada tiga gerakan utama yang harus dilakukan agar tema tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dan juga terwujud secara nyata. Gerakan tersebut adalah gerakan ilmu, penguasaan ekonomi, dan gerakan kebangsaan.

“Ilmu merupakan hal yang dapat menuntaskan segala masalah yang ada, dengan menguasai ekonomi kita dapat melakukan hal apa saja, walau pun tidak semua. Dan yang terakhir kita harus bisa menghadirkan gerakan kebangsaan untuk melengkapi tiga gerakan utama ini agar dapat mewujudkan cita-cita Nasyiah melalui tema tersebut yakni, kemandirian bangsa yang berkemajuan,”jelas Agung.

Agung juga menyampaikan bahwa Muktamar NA nantinya harus menjadi teladan bagi gerakan organisasi perempuan lainnya, yakni dengan bermuktamar secara kondusif dan baik,serta yang terpenting adalah  mengawali tanwir dengan baik, karena jika pembahasan pada tanwir sudah lancar, maka muktamarnya pun akan berjalan dengan lancar.

Karena muktamar adalah ajang yang paling menentukan bagi siapa yang akan memimpin organisasi ini kedepannya. Oleh karena itu Agung mengatakan. “Pimpinan itu seharusnya tidak ada yang mengeluh, karena pemimpin itu dilahirkan dan ditugaskan untuk menyelesaikan serta mengurai segala persoalan yang diamanatkan kepadanya,”tutupnya.(adam)

Kontributor: Bobby Gilang

 

 

 

 

 

 

Shared:
Shared:
1