Muhammadiyah dan Konferensi Wali Gereja Indonesia Dorong Spiritualitas Bangsa

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 24 Agustus 2016 17:18 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengunjungi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Menteng, Rabu (24/8).

“Tujuan dari kunjungan KWI tersebut utamanya yaitu untuk mempererat hubungan antar organisasi keagamaan, antara KWI dan juga Muhammadiyah,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat ditemui Muhammadiyah.or.id, di Jakarta, Rabu (24/8).

Dalam kunjugan ini, KWI, kata Haedar, menilai Muhammadiyah merupakan organisasi besar yang berdiri sudah cukup lama di Indonesia. Dan Muhammadiyah juga dinilai memiliki peran yang cukup besar dalam berdirinya bangsa ini.

Selain itu, Haedar menuturkan, KWI melalui kunjungan tersebut ingin memperoleh pandangan dari Muhammadiyah, sekaligus berbagi informasi mengenai persoalan-persoalan kebangsaan yang menjadi komitmen bersama.

“Muhammadiyah dan KWI melalui silaturahim ini berencana akan mengambil langkah-langkah lanjutan yang diharapkan nantinya dapat dikerjasamakan untuk ke depannya,” kata Haedar.

Lebih lanjut, Haedar memberitahukan, PP Muhammadiyah sangat menyambut baik kunjungan dari KWI tersebut. Karena ini merupakan sebuah tradisi yang positif. “Muhammadiyah mengajak KWI beserta kekuatan civil society yang lain untuk mengambil peran organisasi keagaamaan di Indonesia agar lebih optimal dalam membangun spiritualitas kebangsaan,” jelas Haedar.

Kemudian, Haedar mengatakan, perlu pengoptimalan spiritualitas kebangsaan agar bangsa ini terbimbing. Dan sebagai organisasi keagamaan, Muhammadiyah dan KWI juga harus peduli dengan masalah-masalah bangsa yang semakin kompleks.

Kembali ditambahkan Haedar, terkait dengan masalah pluralitas, dimana kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk merupakan sebuah realitas yang harus kita hadapi. “Menjadi tugas kita bersama-sama agar konflik itu dapat dihindari,” tambahnya.

Haedar mengatakan bahwa toleransi merupakan hal positif di Indonesia. “Kejadian-kejadian yang berhubungan dengan toleransi merupakan tantangan bagi kita untuk semakin menumpuk budaya toleran di masyarakat,” katanya.

“Kita tidak boleh pesimis terhadap peristiwa-peristiwa intoleran yang terjadi, melainkan kita harus terus merubah cara berfikir, tindakan, dan kultur membangun kehidupan yang damai, dan tentram,” tutup Haedar.

 

Reporter: Adam Qodar

Redaktur: Ridlo Abdillah

 
Shared:
Shared:
1