Napak Tilas Sejarah Perjuangan Nasyi’ah Kota Malang

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 24 Agustus 2016 08:54 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG -- Dalam rangka semarak muktamar Nasyiatul Aisyiyah (NA) ke-13 dan HUT RI ke-71, Sabtu (20/8), Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Malang menggelar Seminar Keperempuanan dengan tema “Menyimak Sejarah Napak Tilas Pejuang Nasyi’ah demi Indonesia Berkemjuan”.

Seminar yang dilaksanakan di Aula Pimpinan Daerah Kota Malang ini menghadirkan 5 narasumber yang merupakan mantan ketua PDNA dari tahun 1992-2002. Dalam semarak muktamar NA ke-13 ini, selain menggelar seminar keperempuanan PDNA juga mengadakan lomba Essay untuk siswa SMA sederajat dan kuis berhadiah di sosial media yang pengumuman dan penyerahan hadiahnya dilaksanakan pada akhir seminar.

Abdul Haris, Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Malang dalam sambutannya meNjelaskan bahwa untuk membenahi perkaderan dalam persyarikatan, bukan hanya menggelar acara fomalitas namun juga harus memperhatikan kualitas. Oleh karena itu, Abdul Haris sangat mengapresiasi dilaksanakannya seminar keperempuann ini. “Membina kader Muhammadiyah meliputi 3 aspek yaitu keislaman, wawasan luas dan kepedulian sosial,” tambahnya.

Seminar dipandu oleh Annisa Rosyidah dengan memberikan pertanyaan yang sama pada kelima narasumber yang merupakan mantan ketua PDNA kota Malang. Ketua PDNA tahun 1992-1995, Muhtadawati menjelaskan bahwa saat kepemimpinannya masih sangat jarang perempuan menggunakan jilbab dan perempuan berjilbab dipandang rendah di mata masyarakat, sedangkan anggota NA menggunakan jilbab. Oleh karena itu, pada saat itu NA harus berusaha menunjukkan kemampuannya agar mempunyai nilai jual. “Jika ingin pandai, belajar sendiri bisa, tapi kita harus menjadi umat yang utama” tegasnya.

“Berbeda dengan usia pelajar atau mahasiswa yang masih bergantung dengan orang tua atau usia ibu Aisyiyah yang lebih banyak mempunyai waktu, Usia-usia NA merupakan usia dimana seorang perempuan memikirkan pekerjaannya dan keluarga sehingga waktu anggota NA untuk berorganisasi sangat terbatas. Banyak juga anggota NA yang tidak aktif setelah menikah” jelas Fauziyah, ketua PDNA 2005-2010. Fauziyah juga menjelaskan bahwa untuk mempertahankan eksistensi NA maka perlu melibatkan kader putri dari IPM dan IMM untuk memperkenalkan NA dan harapannya bisa menjadi penerus NA.

Membahas mengenai strategi yang digunakan untuk untuk merintis dan membesarkan NA kota Malang, Ketua PDNA periode 1998-2001, Ratna Yuliawati menjelaskan bahwa saat itu progran andalan yang dilaksanakan NA saat itu adalah turba dan  bersinergi dengan pemuda dalam beberapa kegiatannnya. Sedangkan untuk pemberdayaan kader NA dilakukan dengan mendirikan Taman Penitipan Anak (TPA) dan Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) dengan melibatkan kader NA di dalamnya sebagai pengasuh dan pengajar. “TPA dan LBB ini menjadi badan usahan milih NA (BUANA) yang dapat memberdayakan kader-kader di ranting dan telah memberikan fasilitas pendidikan bagi masyarakat sehingga telah banyak anak yang sukses lahir dari BUANA ini” tambah Huzayanah, ketua PDNA 2000-2005.

Lailatul Fitriyah Az-Zakiyah, Ketua PDNA 2010-2012, mempunyai cara unik dalam membesarkan NA pada masanya, yakni dengan membuat program-program yang menarik dan unik, misalnya TaklimaNA (Tadarus dan Taklim Ramadhan NA), AngeliNA (Agen Travel milik NA) dan Pijar KiraNA (Pendampingan Belajar dan Kreativitas Remaja milik NA). “Program-program menarik tersebut sangat berperan dalam pemberdayaan anggota NA” tambahnya. Di akhir pemaparannya Lailatul juga menjelaskan bahwa anggota NA harus kuat dan memiliki 4B yaitu Good Believe, Beauty, Behaviour dan Brain.

 

Kontributor: Nuzula Khoirun N.

Redaktur : Monaatalina

Shared:
Shared:
1