Hadapi Lika-liku Rintangan, UM Bandung Jadi Dambaan Warga Jawa Barat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 23 Agustus 2016 18:56 WIB
MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG -- Perjuangan untuk mendirikan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) akhirnya membuahkan hasil sesuai dengan yang diinginkan oleh warga Muhammadiyah Jawa Barat, terutama Kota Bandung. Ketua Panitia Pendirian UM Bandung, Dadang Syaripudin mengungkapkan syukurnya atas berdirinya kampus yang didamba-dambakan di Kota Kembang ini. 
 
“Warga Jawa Barat menunggu cukup lama untuk lahirnya universitas di Kota Bandung ini,” ujar Dadang pada peluncuran dan peresmian UM Bandung tersebut di Harris Hotel and Convention, Bandung, Selasa (23/8).
 
Dadang menceritakan rintangan yang dihadapi dalam proses berdirinya UM Bandung. “Sudah dibentuk beberapa kali kepanitiaan,” katanya menyoal pembentukan panitia pendirian UM Bandung yang akhirnya pekerjaannya beberapa kali tak kunjung selesai.
 
Dadang yang ditunjuk sebagai ketua panitia pendirian UM Bandung ini merasakan perjuangan yang pernah dilakukan oleh panitia pendirian sebelumnya.
 
Tahun 2013, Dadang mengatakan, Pimpinan Wilayah Jawa Barat diberikan amanah oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sebagai tuan rumah sidang Tanwir Muhammadiyah. Dalam kegiatan sidang Tanwir tersebut, terang Dadang, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsudin menginginkan agar terbentuknya Universitas Muhammadiyah di Bandung.
   
“Saya tidak mau tahu! Gimana caranya, saya hanya ingin mendengar, saat Muktamar Muhammadiyah nanti di Makassar, saya ingin mendengar laporan Pimpinan Jabar bahwa di Bandung sudah berdiri universitas,” ungkap Dadang mengulangi pernyataan Din dalam sidang Tanwir 2013. 
 
Mantan Ketua PWM Jawa Barat, Ayat Dimyanti, Dadang menambahkan, saat itu, menyanggupi mandat yang diberikan oleh Din untuk mendirikan Universitas Muhammadiyah di Bandung. “Perjuangan pasti ada halangan dan rintangan,” ujarnya mengenang perjuangan yang dilalui oleh panitia pendiri UM Bandung.
 
Pendirian UM Bandung memakan waktu yang tidak sebentar. Bahkan, ujar Dadang, perjuangan untuk membangun komunikasi dan jaringan untuk pembentukan UM Bandung memakan waktu satu tahun. “Nyaris hampir satu tahun habis kita persiapkan,” kata Wakil Ketua PWM Jawa Barat ini. Kenyataannya, di Muktamar Muhammadiyah Makassar 2015, UM Bandung belum rampung resmi berdiri.
 
Pada tahun 2015 juga, Dadang mengajukan pendirian UM Bandung ke Koordinator Perguruan Tinggi Islam Swasta (Kopertis) dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). UM Bandung mengajukan 12 program studi ke Kemenristekdikti, namun hanya 11 prodi yang mendapatkan perizinan tersebut. 
 
“25 Juni 2016 itu kita sudah mendapatkan izin operasional,” ujarnya memberitahukan. 11 prodi ini terbagi dalam dua fakultas, pertama, Fakultas Saintek  yang diisi oleh program teknik elektro, teknik informatika, teknik industri, teknologi pangan halal, bioteknologi, dan Farmasi. Kedua, Fakultas Ilmu sosial dan Humaniora, diantaranya administrasi publik, psikologi, ilmu komunikasi, Agribisnis, dan Kriya tekstil dan Fashion. 
 
“Memanfaatkan Bandung sebagai kota fashion,” ucap Dadang tentang program Kriya Tekstil dan Fashion yang juga diharapkan dapat menjadi daya tarik UM Bandung di kota yang dipimpin oleh Walikota Ridwan Kamil itu.
 
“Semoga bisa berkembang dan tidak terlalu lama waktunya untuk mensejajarkan diri dengan universitas di banyak kota,” katanya berharap UM Bandung mampu bersaing dengan universitas dan perguruan tinggi lainnya segera.
 
 
Reporter: Ilma Aghniatunnisa
Redaktur: Ridlo Abdillah
Ilustrator : Monaatalina
Shared:
Shared:
1