Syamsul Anwar: Kalender Hijriyah Global Merupakan Hutang Peradaban yang Harus Dibayar

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 21 Agustus 2016 09:55 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA-Kalender Hijriyah Global Tunggal merupakan kalender hijriyah dengan prinsip satu hari  satu tanggal di seluruh dunia. Artinya satu sistem kalender berlaku di seluruh kawasan muka bumi tanpa terkecuali yang berasaskan keselarasan antara hari dan tanggal.

“Kalender Hijriah Global merupakan tuntutan dan kehadirannya merupakan hutang peradaban yang harus dibayar, dan dari segi usul fikih merupakan makasid syariah,” ungkap Syamsul Anwar, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah pada Minggu (21/8) bertempat di Gedung Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam acara Halaqah Nasional Ahli Hisab dan Fikih Muhammadiyah.

Kembali ditambahkan Syamsul, pada tingkat akademik hingga kini secara konsepsional kajian kalender Hijriah Global telah mengalami kemajuan amat signifikan. “Namun pada tingkatan yang resmi salah satunya yaitu pada konferensi-konferensi Menteri Luar Negeri negara-negara muslim yang kini telah mencapai putaran ke 42, kemajuan upaya perumusan kalender Islam unifikatif sangat berat langkahnya dan tidak mengalami kemajuan yang berarti,” tambah Syamsul.

Permasalahan kalender hijriyah global tidak terletak pada pada aspek tekhnis, melainkan lebih kepada persoalan dari sisi fikih. “Oleh karena itu perlu dipertimbangkan argument-argumen usul fikih yang dapat melihat permasalahan secara argumentatif,” ungkap Syamsul.

“Konsep kalender Hijriah Global yang ada, termasuk versi terakhir keputusan Istanbul terbuka untuk dikaji ulang dan disempurnakan agar lebih akurat dan lebih mudah diterapkan,” jelas Syamsul.

Senada dengan Syamsul, Tono Saksono, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengungkapkan. “Kita masih memerlukan perbaikan agar kriteria kalender islam global tunggal yang diputuskan di Turki pada bulan Mei lalu dapat lebih sederhana untuk dipahami,” ungkapnya.

 Hasrat untuk memperbaiki kriteria tersebut tidaklah patut dijadikan dalih untuk menghambat implementasi Kalender Islam Global Tunggal (KIGT) saat ini. “Sudah saatnya Muhammadiyah segera mempelopori penggunaan KIGT Turki, sambil berupaya memberikan kontribusi pada upaya penyederhanaan dan perbaikan kriteria yang digunakan sekarang,” tutup Tono. (adam)

Shared:
Shared:
1