Peran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam 71 Tahun Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 17 Agustus 2016 08:59 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak bisa dilepaskan kaitannya dari akar sejarah berdirinya Republik Indonesia. Spirit berdirinya Muhammadiyah telah mengilhami berdirinya hampir seluruh organisasi ortonom yang ada di Muhammadiyah, termasuk Aisyiyah.

KH. Ahmad Dahlan tidak hanya memperhatikan pembinaan pada kaum laki-laki saja dan tentunya memperhatikan pembinaan terhadap perempuan dan anak-anak. Perempuan dan anak-anak tersebut dibina untuk menjadi pemimpin masa depan, serta dipersiapkan menjadi kader bagi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

“Muhammadiyah dan ‘Asyiyah perlu mengisi kemerdekaan dengan mengadvokasi. Apa yang di advokasi tentunya bisa apa saja. Misalkan ketika dalam suatu pemerintahan terlihat ada persoalan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bisa mengingatkan pemerintah”, tutur Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Umum PP Aisyiyah ketika ditemui redaksi muhammadiyah.or.id pada Selasa (16/8).

"Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sudah banyak melakukan advokasi di daerah-daerah. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tentunya tidak dapat melakukan hal itu apabila tidak mengerti persoalan yang sedang dihadapi bangsa," ujar Noor.

“Sebaiknya kita mendorong pemerintah untuk hadir jangan sampai Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mengambil peran negara. Tanggung jawab Muhammadiyah dan ‘Aiyiyah hanya sebatas komplementer, yaitu tanggung jawab dakwah," tambah Noordjannah.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah telah terbukti nyata dalam mengisi 71 Kemerdekaan Indonesia dengan berbagai hal yang sudah dilakukan. “Bukti nyata pekerjaan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sudah dalam banyak bidang, ya dalam amal usaha yang mencakup banyak lingkup. Dan menjadi kebanggan juga bahwa tidak hanya Muhammadiyah yang maju namun juga ‘Aisyiyah sebagai inisiator bahwa perempuan juga bisa melakukan sesuatu." tutup Noordjannah. (adam)

Reporter: Syifa

 

 

Shared:
Shared:
1