Haedar Nashir : Tiga Hal yang Dilahirkan dari Iman

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 03 Januari 2012 16:42 WIB

 

Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, mengatakan iman seharusnya bisa menjaga dan mengontrol diri kita dan melahirkan amal soleh. Iman akan menjaga dan mendorong perilaku soleh. Orang beriman, katanya, akan melahirkan tiga hal. Pertama, orang beriman akan terjaga dan terawasi (muroqobah). “Inilah substansi keimanan, di mana tanpa perhatian orang lain pun kita percaya bahwa ada diri yang harus mengontrol sendiri perilaku-perilaku kita,” kata Headar.

 

Kedua, iman akan melahirkan muhasabah, yakni sikap instropeksi diri. Setiap kita melakukan ihtisab, berfikir cermat untuk selalu memperbaiki diri dari amalan-amalan yang tidak terpuji dan membangun kebaikan di kemudian hari. Ketiga, menurut, Haedar, iman melahirkan mujahadah. Seseorang yang memiliki iman kuat akan mengejewantahkannya dalam bentuk perilaku amal soleh, bersungguh-sungguh untuk kebaikan, bekerja keras. Iman tanpa kerja keras untuk kebaikan belum sempurna. “Janganlah kita berbuat sedikit tetapi merasa telah berbuat banyak,” pesannya.

 

Sebelum Haedar, pengajian juga diisi oleh Prof. Dr. Zamroni. Pengurus PP Muhammadiyah ini mengingatkan tantangan besar yang dihadapi Muhammadiyah. Ada tiga problematika yang pelik yang coba dijawab Muhammadiyah selama ini. Yakni, persoalan kebodohan, kesengsaraan dan kemiskinan, serta pertikaian.

 

Muhammadiyah, kata Zamroni, sejak awal menghadapi kebodohan itu dengan berperan dalam bidang pendidikan. Muhammadiyah sangat concern dengan kualitas pendidikan dan ikut andil dalam kebijakan dalam skala nasional. Misalnya, ketika reformasi pendidikan yang mengarahkan pendidikan yang demokratis, Mendiknas yang putra Muhammadiyah, Prof. Dr. Yahya A Muhaimin, melakukan reformasi itu dengan baik. Demikian pula, ketika Mendiknas Prof. HA Malik Fadjar, gagasan broard based education untuk memperluas akses pendidikan sangat dirasakan pengaruhnya bagi system pendidikan nasional. “Saat ini, manejemen pendidikan kita lemah, substansinya juga lemah. Orang sekarang bukan mencari ilmu tetapi mencari ijazah,” kritik Zamroni.

 

Problem keterbelakangan dan kemiskinan juga menjadi perhatian serius Muhammadiyah. Dengan mendirikan amal usaha sosial, rumah sakit, panti asuhan, pemberdayaan ekonomi, Muhammadiyah telah melakukan upaya memerangi kesengsaraan itu. Sementara, di sisi lain saat ini pembangunan mal dan pusat bisnis tumbuh terus, tetapi pemerataannya sangat memprihatinkan. “Yang kaya tetap semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin,” tukas Zamroni lagi.

 

Zamroni juga memprihatinkan konflik horizontal yang terus terjadi akhir-akhir ini. Bangsa kita seperti mudah sekali tersulut emosi dan selalu mengedepankan pertikaian daripada cinta kasih atau kebijaksanaan. Muhammadiyah diminta menjadi perekat umat, mengutamakan silaturahim dan memperkuat persatuan bangsa. 
 

Rektor Muhadjir Effendy menyatakan pengajian ini menandai penutupan tahun 2011 dan menyambut tahun 2012. Dia meminta agar penguatan keimanan dan etos bekerja keras terus dipupuk oleh karyawan dan dosen UMM. Tahun depan harus lebih baik daripada tahun ini. 
 

Rektor juga mengumumkan tunjangan "tahun baru" bagi karyawan dan dosen yang akan cair dalam waktu dekat. Sebagaimana tahun lalu, tunjangan ini merupakan "gaji ke-15", karena tradisi UMM juga membagikan gaji ke-13 pada pertengahan tahun dan "gaji ke-14" sebagai THR bulan Syawal. "Hitung-hitung untuk tambahan liburan tahun baru dan sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan UMM dan kerja keras kita selama ini," ujar rektor disambut tepuk tangan.

Shared:
Shared:
1