Pakar Psikologi : Pengembangan Psikologi Islam Penting Dilakukan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 13 Agustus 2016 11:40 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL- Bagus Riyono, pakar psikologi mengungkapkan bahwa Ilmu Psikologi yang selama ini berkembang menganut ilmu psikologi yang atheis. Dimana menganggap  yang paling berkuasa di dunia ini adalah manusia, yang paling penting adalah hawa nafsu,  dan kebahagaiaan  adalah hedonistik dan materialistik.

“Untuk itu kita wajib mengembangkan psikologi Islam, karena berdasar  Al Quran, dan secara isi, ilmunya sudah lengkap, yang akan membawa kita pada pemahaman tauhid, dan pelajaran bagi mereka yang menggunakan akal,” jelas Bagus Riyono pada Kamis (11/8) dalam acara Seminar Al-Quran yang merupakan serangkaian acara Festival Al-Quran yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Menurut Bagus, semua ilmu, harus berkembang dari kajian-kajian ayat-ayat Al-Quran.”Sementara ini ilmu psikologi masih berangkat dari pengalaman penulisnya. Dalam bentuk teori, latar belakang, dan alasan kenapa teori ini muncul. Alhasil, teori psikologi berbeda-beda dan bertentangan. Jadi, jika ingin mempelajari psikologi secara ilmiah, maka kita harus mempelajari Al Quran,” ungkapnya.

“Psikologi menurut Islam itu apa ?. Tidak lain dan tidak bukan ya Islam itu sendiri. Islam diturunkan untuk memperbaiki akhlah manusia, itulah ilmu psikologi. Ilmu untuk memahami dan menghayati, apa yang harus kita lakukan di dunia ini, siapa kita ini, apa karakteristik dasar kita sebagai manusia, yang harus kita jaga, agar kita tidak tersesat dalam hidup,” tambah Bagus.

Sedangkan psikologi islam, lewat Al Quran, mampu mengajarkan, berpikir kritis, menggunakan akal, kemudian diuji secara empiris. Psikologi Islam justru lebih ilmiah, karena  ciri ilmiah itu lepas dari objek.

“ Justru prinsip dasar psikologi, bahwa semua manusia itu subjektif. Jangan pernah merasa pendapat kita paling benar. Dibuktikan oleh pemikir Islam, Ibnu Khaldun,  bahwa sejarah bukan representasi dari kenyataan, tapi sejarah adalah representasi subjektif dari penulisnya,” tutup Bagus. (adam)

 

Kontributor: Muhammad Fathi Djunaedy.

 

Shared:
Shared:
1