Potensi Luar Bisa Bidang AIK di PTM

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 11 Agustus 2016 15:43 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL -- Zamah Sari, Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Buya Hamka (UHAMKA) Jakarta mengatakan bahwa Muhammadiyah beruntung memiliki  Majelis Pendidikan Tinggi, yang terus mendampingi dan mengatur sistem kelola Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), yang tidak dimiliki perguruan tinggi swasta lainnya.

"Di kampus kita sudah punya kurikulum, bukan PTM jika tidak punya AIK. PTM juga mempunyai modal lainnya, yakni  IMM dan BEM. Setiap PTM punya masjid, kegiatan baitul arqam, dan pengajian.  Juga beberapa PTM, yang memiliki Rusunawa," tutur Zamah.

( Baca Full Day School Bukan Berarti Belajar Penuh di Sekolah  )

“Bidang AIK hari ini dan ke depannya bakal luar biasa, contohnya di UMY, mampu  mengelola agenda Festival Al Quran se Indonesia. Secara manajerial AIK tampil, tidak seperti  manajemen masjid, RT, RW, dan sebagainya," 

"Kami membaca geliat di PTM sangat besar sekali, seperti  pengalaman  di UHAMKA, modal seperti ini, harusnya tersistematisasi. Akan tetapi, problem sebelumnya ialah, banyaknya kegiatan AIK, tapi tidak saling terkoneksi. AIK, IMM, dan BEM saling sibuk sendiri. ” ujarnya di dalam forum pertemuan WR dan lembaga AIK, Festival Al Quran 2016, yang belokasi di ruang sidang AR Fakhruddin A UMY, Rabu (10/8)

( Baca Menteri Agama Sebut Tokoh Muhammadiyah Ciptakan Tradisi Mengkaji Ilmu Baru dari Al-Quran  )

Menurut Zamah untuk  mensistematisasinya, mengambil contoh  di UHAMKA tidak banyak tajdid yang  dilakukan, karena modalnya sudah tersedia.

“Kegiatan AIK cukup banyak, untuk sekarang sudah substansinya sangat besar dan kuat, tidak mengekor kegiatan sebelumnya dan diletakkan kontekstual  sesuai kebutuhan kampus. Di UHAMKA, mengadakan baitul arqam, target diadakan minimal sebanyak sembilan kali dalam setahun . Untuk bisa melayani 420 SDM,” tambahnya.

( Baca Muhadjir Effendy : Pengembangan Sekolah Vokasi Menjadi Prioritas Pemerintah )

Zamah menjabarkan bahwa, untuk mewujudkan kampus yang Islami, harus mencakup tiga hal ini. Pertama,sumber daya manusianya. Sasarannya adalah para pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasiswa. Berupa kegiatan rekruitmen, baitul arqam, pengajian, dan uji komprehensif. Kedua,ilmu pengetahuan, dalam bentuk kurikulum AIK dan kurikulum integratif. Ketiga,sistem. Jika tidak disentuh, maka tidak sinkron antara satu dan lainnya.

Bagi Zamah, strategi implementasi kampus Islam itu ada empat langkah, yakni, komitmen pimpinan, standarisasi, mobilisasi, dan sistem insentif.

( Baca Ketua PP Muhammadiyah : Keadilan Merupakan Pondasi dari Kerukunan Antar Umat Beragama )

 

Kontributor: M Fathi Djunaedy

Redaktur : Fauziah

Shared:
Shared:
1