Yunahar Ilyas: Wajib Hukumnya Membumikan Al-Qur’an Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 11 Agustus 2016 10:49 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA –- Al-Qur’an merupakan sumber segala ilmu diberbagai bidang. Perkembangan Sains pada dekade ini tidak lepas dari peranan Al-Qur’an dalam menyumbangkan pemikiran-pemikiran.

“Alqur’an itu bagian dari ilmu yang Allah turunkan kepada manusia di muka bumi ini,” ungkap Ketua Majlis Tarjih PP Muhammadiyah sekaligus Wakil Majlis Ulama Indonesia (MUI), Yunahar Ilyas, pada acara Seminar Al-Qur’an dengan tema ‘Reaktualisasi Al-Qur’an untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Sains’ di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (11/08).

Yunahar menerangkan cabang ilmu Allah yang di turunkan di bumi terbagi menjadi dua hal, yaitu wahyu dan alam.

Wahyu yang Allah turunkan sering disebut ayat qouliyah. “Ayat qouliyah pada dasarnya sudah tertuang di kitab Alqur’an, pesan Allah yang dibahasakan oleh Nabi yang sering disebut Hadist Qudsi, dan Hadist Shohih sebagai pelengkap dari Al-Quran,” jelas Yunahar.

Selain itu, lanjut Yunahar, ayat-ayat alam atau sering disebut ayat qouniyah merupakan bagian ilmu yang Allah tunjukkan kepada manusia, sehingga pada abad ke-21 sudah muncul berbagai macam ilmu pengetahuan.

Yunahar menyinggung terkait masalah dikotomi agama yang terjadi di masyarakat luas. Orang lebih cenderung membedakan urusan agama dengan urusan dunia, bukan merupakan suatu kesatuan.

“Orang cenderung membedakan urusan dunia dengan urusan agama pada berbagai bidang, padahal jika dilihat dari historis ilmu umum itu terlahir dari ilmu agama yang dikaji secara mendalam,” ungkapnya.

Yunahar menceritakan berdirinya Universitas Al-Azhar di Mesir dimulai dari masjid, hingga berdiri berbagai cabang ilmu. “Al-Azhar pada awalnya dimulai dari masjid, sampai suatu saat masjid tersebut tidak mampu menampung ribuan pelajar, sehingga dibutuhkan gedung-gedung untuk membagi materi pembelajaran, ada ilmu hadist, ilmu Qur’an, dll,” terang Yunahar.

Selain itu, Yunahar menjelaskan tata cara menafsirkan Al-Qur’an dan Hadist. Metode penafsiran tersebut menjadi dasar berkembangnya berbagai ilmu pengetahuan, seperti astronomi, kedokteran, fisika, dan lain-lainnya.

Pada akhir sesi, Yunahar berharap agar para ilmuan dan dosen, khususnya di lingkungan Muhammadiyah, harus mampu membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Seluruh Ilmuwan Muhammadiyah wajib mempelajari Al-Qur’an sebagai dasar ilmu, sehingga nantinya tidak akan ikut arus dikotomi terhadap Al-Qur’an itu sendiri,” tutup Yunahar.

 

Kontributor : Nuurwachid

Redaktur : Fauziah

 

Shared:
Shared:
1