Full Day School Pendekatan dalam Membangun Pendidikan Karakter

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 09 Agustus 2016 22:59 WIB
MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia (RI), Muhadjir Effendy mengagas pendidikan Full Day School (FDS) bagi tingkat Pendidikan Sekolah Dasar (SD) maupun Menengah Pertama (SMP).
 
Berbagai komentar terkait kebijakan tersebut turut disampaikan oleh berbagai pihak, salah satunya diutarakan oleh  Alpha Amirrachman, Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah pada Selasa (9/8) ketika dihubungi redaksi website muhammadiyah.or.id. “Pendidikan karakter sangat penting dalam rangka membangun revolusi mental,” ungkapnya.
 
( Baca Full Day School Bukan Berarti Belajar Penuh di Sekolah )
 
FDS tidak berarti peserta didik “belajar” sehari penuh di sekolah. Namun memastikan bahwa peserta didik mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler yang memperkuat karakter peserta didik. “Melalui konsep pendidikan FDS tersebut akan membangun revolusi mental siswa-siswi,” tambah Alpha.
 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpesan bahwa kondisi ideal peserta didik di tingkat sekolah dasar perlu mendapatkan pendidikan karakter 80% dan 20% pengetahuan, SMP 60% pendidikan karakter dan 40% pengetahuan.
 
“Lingkungan sekolah haruslah menyenangkan, karena itu setelah mereka belajar sampai tengah hari, hendaknya mereka tidak langsung pulang ke rumah namun mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang menyenangkan namun membentuk karakter dan kepribadian, seperti Pramuka, Palang Merah Remaja, dan sebagainya,” jelas Alpha.
 
“Kalau misalnya ada kursus tambahan juga bisa dimasukkan, namun porsi pembentukan karakter tentu lebih besar,” tambah Alpha.
 
Dengan demikian peserta didik juga terbentengi secara kuat juga dari pengaruh-pengaruh negatif dan kontra-produktif seperti penyalahgunaan narkoba atau tawuran karena selalu berada dalam lingkungan sekolah.
 
“Di sekolah, ikatan dan semangat espirit de corp antar peserta didik pun akan terjalin dengan baik, seperti kesetiakawanan dan toleransi. Di sekolah nanti mereka akan makan siang bersama-sama sehingga keakraban akan lebih terjalin,” jelas Alpha.
 
Hal ini juga akan sangat membantu orang tua, di mana setelah mereka kerja mereka dapat menjemput buah hati mereka di sekolah dan merasa aman karena anak-anak mereka tetap berada di bawah bimbingan guru.
 
“Peran orang tua juga tetap penting, karena itu perlu juga dipikirkan hari Sabtu menjadi hari libur untuk keluarga sehingga ikatan emosianal dengan orang tua tetap terjaga dengan baik,” kata Alpha.
 
Selain itu, tugas guru-guru dalam membimbing peserta didik melalui ekstra kurikuler setelah jam pelajaran usai tengah hari sampai sore juga dapat diperhitungkan sebagai bagian dari kewajiban 24 jam/minggu. “Mengajar bagi guru sesuai dengan UU Guru dan Dosen No 14 tahun 2005, jadi guru tidak perlu mengajar di tempat lain dalam rangka pemenuhan kewajiban 24 jam-nya,” tutup Alpha. (adam/mona)
Shared:
Shared:
1