Silaturahim Muhammadiyah dan NU Kabupaten Bekasi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 09 Agustus 2016 16:36 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BEKASI -- Dampak dan Ibrah (hikmah) Idul fitri dapat dirasakan oleh semua umat muslim. Hal itu juga dirasakan oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah. Dua organisasi besar ini mengadakan kegiatan bersama dalam tajuk ”Membangun Komitmen Keummatan dan Kebangsaan menuju Kabupaten Bekasi yang lebih beradab.”

Dalam kegiatan tersebut, momen saling mengenal dan silaturahim terasa kental. Semua ortom Muhammadiyah dan NU yang berkontribusi di aksi tersebut turut berelasi dan bersinergi demi persatuan umat. Hal yang menarik adalah kegiatan tersebut bukan  hanya milik para elit kedua organisasi besar tersebut, tapi juga milik kader dan peserta yang mayoritas berasal dari daerah kampung yang ada di Cikarang.

( Baca Muhadjir Effendy: Saya Yakin Banyak Warga Muhammadiyah di Belakang Saya )

Kegiatan tersebut diisi dengan rangkaian acara yang mencirikan dan menampilkan karakter kedua organisasi tersebut. Dimulai dari menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars NU dan Muhammadiyah.

Menurtu Abdul Haris, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bekasi, sebagai duta Muhammadiyah kita harus menampilkan pribadi yang santun dan ramah .

“Berbaurnya kader kedua organisasi tersebut merupakan bukti sebagai Ukhuwah Islamiyah, karena musuh Islam sebenarnya adalah bukan orang Islam itu sendiri tapi orang yang mengadu domba orang Islam sehingga umat Islam terpecah dan konsep kesatuanlah yang menguatkan umat muslim,” ujar Abdul Haris.

( Baca Kuatkan Sistem Koordinasi Organisasi, MLHPB Jatim Selenggarakan Rakerwil )

Sementara tokoh penengah NU dan Muhammadiyah Kabupaten Bekasi, Ma’mun Murod Al Barbasy menceritakan pemimpin-pemimpin yang mempunyai ikatan batin yang kental dengan NU dan Muhammadiyah.

“Banyak pemimpin-pemimpin hebat berasal dari hasil didikan kedua organisasi besar ini. Seperti Bung Karno, yang menjalankan asas dan ajaran Muhamadiyah dalam proses kehidupannya dan merangkul NU dalam sosialisainya, hal tersebut menjadikan NU nyaman dengan kepemimpinan pemimpin berdarah Muhammadiyah, ibaratnya Bung karno itu adalah ketika hidup berselendangkan Muhammadiyah dan ketika mati menggunakan selendang NU,” tutur Ma’mun

 

Kontributor : Siti Umu Hanif

Redaktur : Monaatalina

Shared:
Shared:
1