Salah Tafsir Jihad Fisabilillah Picu Aksi Terorisme

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 06 Agustus 2016 17:42 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan perang dalam rangka membela Islam dari kaum kafir Quraisy, sehingga disebut sebagai jihad fisabilillah. Namun dewasa ini, konteks jihad fisabilillah dengan berperang banyak disalah tafsirkan, sehingga memunculkan pemikiran radikal yang memicu aksi terorisme.

Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian mencontohkan, paham radikal yang memicu aksi terorisme itu seperti yang dilakukan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Menurut Tito, sesuai informasi yang ia dapat, ISIS bermula dari kelompok Tauhid wal Jihad di Iraq yang berdiri dalam upaya melawan Amerika Serikat yang banyak melakukan intervensi di negara Iraq dan Afghanistan.

"Kelompok Tauhid wal Jihad didirikan oleh Abu Muhammad Magdisi kemudian dilanjutkan oleh Abu Mussaf Zarkawi, setelah itu dilanjutkan oleh muridnya Abubakar Al Baghdadi yang menjadi pendiri ISIS," ujar Tito dalam pembukaan Seminar Nasional "Kajian Hukum Terhadap Revisi UU No.15 Tahun 2003", kerja sama POLRI dengan Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Fakultas Hukum UMY di Convention Hall Asri Medical Center, Sabtu (06/08).

ISIS menjadi berbahaya karena paham doktrinnya yakni doktrin takfiri. Doktrin tersebut dijelaskan Tito diambil dari perang pada masa Nabi Muhammad yang diterjemahkan pada konteks masa kini. "Sehingga mereka (para penganut doktrin takfiri-red.), mengkafirkan orang-orang yang menyerang mereka dan harus dibunuh. Bahkan muslim pun yang bukan termasuk dalam kelompok mereka, mereka anggap musuh, dan boleh dibunuh," katanya. 

Selain itu, Tito menambahkan, jaringan radikal seperti ISIS, NII, Jama'ah Islamiyah dan lain-lain, memiliki pemahaman mati untuk jihad akan membawa mereka menuju surga. "Padahal sebenarnya bisa kalau para teroris itu menaruh bom di dalam tas, lalu tasnya ditinggalkan saja di toilet. Tapi pada kasus pemboman Kantor Polisi Cirebon, tersangka malah menaruh bom di tas pinggang mereka. Kenapa? Karena paham mereka jika mereka mati, mereka akan langsung masuk surga dan bertemu Tuhan. Pemahaman mereka itulah problem kita," tegas mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah, Muhammad Busyro Muqoddas mengatakan, praktik terorisme di negeri ini dapat dipaparkan ke dalam tiga kluster. "Pertama, terorisme oleh negara yang berlangsung di rezim orde baru. Beberapa tragedi kemanusiaan yang menyertai kasus perampokan kantor pemerintah, penembakan kasir kantor negara, pembunuhan dan lain-lain. Dalam kluster ini menegaskan fakta terdapatnya teror oleh negara atau state terorism," terang Busyro.

Kluster terorisme kedua, Busyro menuturkan, radikalisme dan terorisme berlatar belakang ketidakadilan ekonomi dan konflik sumber daya alam di kawasan tambang di NTB, Sumatera, Papua, Aceh, dan Jawa. "Sedangkan kluster ketiga ialah radikalisme berbasis ideologis-teologis akibat sektarianisme dan eksklusivisme beragam yang isolatif dan anti dialog dalam kemajemukan," tutur Busyro.

Reporter: Deansa/Humas UMY

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1