Indonesia Harus Antisipasi Perubahan ‘Landscape’ Baru Dunia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 06 Agustus 2016 13:51 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir memandang bahwa umat muslim dunia dan juga Indonesia harus mengantisipasi perubahan landscape baru yang akan terjadi. Baik itu berupa perubahan ruang, fisik maupun sosial yang terjadi secara global. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki akhlak manusia.

“Perubahan ini mungkin tentu memerlukan  perspektif yang baru kita dalam melihat dunia global,” ujar Haedar mengingatkan seluruh masyarakat dalam menghadapi kondisi dan persaingan global dalam Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah di Auditorium KH. Ahmad Dahlan, Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jum’at malam (5/8).

Haedar menceritakan, kondisi muslim di negara-negara Timur Tengah yang sangat mengkhawatirkan. Seperti halnya dunia Arab yang mengalami arab spring yang diwarnai oleh konflik dan peperangan di dalam internal dunia Islam. Negara-negara yang menghadapi konflik di antaranya Irak, Libya, Mesir, Yaman dan terakhir Suriah.

“Sungguh situasi yang sangat pelik dan nyaris populis,” ujar Haedar yang sangat tidak menginginkan kondisi tersebut terjadi.

Dari 22 juta penduduk Suriah, terang Haedar, terdapat 6,5 juta pengungsi di Eropa. Begitupun yang terjadi di Jerman, lebih dari 800 ribu pengungsi. Kalau akhirnya mereka menjadi imigran tetap disana, lanjut dia, akan menghadirkan landscape baru.  

Di Republik  Indonesia sendiri, kekuatan Islam merupakan salah satu yang mewarnai dinamika perjalanan bangsa terutama pasca reformasi. Dimulai dari Sarekat Islam, Muhammadiyah, Al Irsyad, Jami’at Khair, Persatuan Islam hingga Tarbiyah Islamiyah. “Itu menjadi pilar bagi lahirnya republik ini,” tutur Ketua Umum PP Muhammadiyah yang lama berkarya sebagai jurnalis di majalah tertua Indonesia Suara Muhammadiyah itu.

Menurut Haedar, dengan jumlah masyarakat muslim di Indonesia merupakan peluang baru bagi kehidupan umat Islam. “Ini merupakan potensi besar,” ujarnya. Namun, dilihat dari banyaknya masyarakat muslim Indonesia, yang mayoritas masih dhu’afa atau mustad’afin secara ekonomi dan dinilai tertinggal dalam daya saing menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia untuk bergerak maju.

Ditambah lagi dengan globalisasi, tantangan dalam dunia virtual dan liberalisasi politik,sosial dan budaya. Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh umat muslim.

Walau pun demikian, masyarakat muslim khususnya di Indonesia, kata Haedar, jangan kehilangan harapan terhadap masa depan Islam. “Kalau semua orang bisa dan mau belajar dari musibah ini, akan lahir situasi baru yang membawa  jalan bagi dunia Islam,” ujar Haedar optimis.

Haedar mengingatkan, kepada peserta pengajian bulanan, juga seluruh masyarakat Indonesia agar jangan sampai melupakan tujuan utama umat Islam yaitu mendorong perbaikan akhlak bangsa.

”Innama buitsu liutamimma makarimal akhlak, itu tugas seluruh kekuatan dakwah kita,” kata Haedar . Dan salah satunya dengan membangun ukhuwah Islamiyah yang lebih otentik.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1