Menteri Kesehatan : Penderita Kanker Serviks di Indonesia Masih Cukup Tinggi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 03 Agustus 2016 09:40 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA- Permasalahan kesehatan pada dasarnya akan terus meningkat seiring dengan gaya hidup dan juga pola kesehatan yang kurang baik di masyarakat. Salah satunya terkait dengan kanker serviks, yang penyebarannya masih cukup tinggi di Indonesia, khususnya pada perempuan.

“Kanker serviks masih berada di peringkat dua di Indonesia,” ungkap Nila Djuwita Moeloek, Menteri Kesehatan RI pada Rabu (3/8) bertempat di Ruang Seminar Lantai 4 Universitas Aisyiyah (UNISA) dalam Acara Konferensi Nasional yang diselenggarakan oleh PP Nasyiatul Aisyiyah (NA) dalam menyambut Muktamar NA ke- 13.

Nila menambahkan, terdapat berbagai hal yang menyebabkan penderita kanker serviks semakin meningkat di Indonesia. “Salah satu penyebabnya yaitu dikarenakan tingginya pernikahan dini di Indonesia, minimal usia pernikahan bagi perempuan seharusnya yaitu berusia 18 tahun ke atas, namun yang disayangkan perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun masih cukup tinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Selain pernikahan dini, faktor lainnya yang menyebabkan tingginya kanker serviks yaitu disebabkan oleh seks bebas. “Masih banyak remaja di Indonesia yang belum memahami akibat yang timbul dari seks bebas, apalagi seks bebas dilakukan tidak pada hanya satu orang saja,” tambah Nila.

“Peran NA dan juga Aisyiyah sangat dibutuhkan dalam penanganan permasalahan kanker serviks yang terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu dengan mengkampanyekan pencegahan dan penindakan kanker serviks bagi remaja di Indonesia,” jelas Nila.

Terlepas dari hal itu Nila juga mengungkapkan, 23,90% pelaksanaan jaminan kesehatan dihabiskan untuk penyakit katastropik. “Penyebaran penyakit di Indonesia mulai bertransisi, dari yang menular menjadi penyakit tidak menular, dan angkanya cukup tinggi, hingga menghabiskan jaminan dana kesehatan hingga 13,6 Triliun Rupiah per tahunnya,”  ungkapnya.

“Jenis penyakit yang tidak menular seperti jantung, gagal ginjal, dan juga diabetes angkanya masih sangat tinggi di Indonesia,” ujar Nila.

“Kesehatan merupakan kunci dari kemakmuran bangsa, marilah kita bersama-sama melakukan pencegahan sejak dini, yaitu dengan meninggalkan perilaku-perilaku buruk, dan mulai produktif dengan kegiatan positif, yang disertai dengan menjaga pola makan dan juga gaya hidup,” tutupnya. (adam)

 

Shared:
Shared:
1