PP Muhammadiyah Sesalkan Kerusuhan dan Pengerusakan Tempat Ibadah di Tanjung Balai

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 01 Agustus 2016 12:10 WIB

MEDAN, MUHAMMADIYAH.OR.ID – Muhammadiyah prihatin dan menyesalkan tindakan perusakan tempat ibadah di Tanjung Balai, Sumatra Utara. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir kepada redaksi website resmi PP Muhammadiyah, Senin (1/8), mengatakan tindakan kekarasan dan pengerusakan terhadap tempat ibadah tidak dibenarkan oleh ajaran agama apapun.

Pada saat yang sama Muhammadiyah juga mengajak kepada anggota masyarakat di mana pun agar menghormati dan toleran terhadap umat agama lain yang melaksanakan ibadah serta aktivitas keagamaan di  masjid sebagai bagian dari hak beragama yang diakui konstitusi, sehingga tidak boleh dianggap sebagai gaduh dan mengganggu ketenangan publik.

“Jika masyarakat sangat toleran kalau ada hiburan-hiburan musik dan pertunjukan lainnya, maka selayaknya tidak merasa terganggu dengan suara azan dan kegiatan yang diselenggarakan di masjid maupun pusat kegiatan ibadah lainnya”, kata Haedar.

Lebih lanjut, Haedar mengatakan sikap saling menghargai dan toleran merupakan keniscayaan, “Jika hal itu diingkari akan menimbulkan disharmoni dan dapat memicu konflik,” ujar Haedar.

“Dalam menghadapi masalah semestinya anggota masyarakat mengedepankan cara-cara yang damai dan solusi yang maslahat, serta tidak main hakim sendiri dan melakukan kekerasan atau pengrusakan”, tambah Haedar.

Haedar berpesan kepada semua umat beragama dan warga bangsa di seluruh tanah air agar tetap tenang dan mengambil pelajaran dari peristiwa Tanjung Balai maupun kasus serupa lainnya untuk lebih dewasa dalam berinteraksi dan tidak terulang lagi di kemudian hari.

“Sikap waspada, dewasa, dan mau belajar dari pengalaman sangat diperlukan oleh seluruh komponen bangsa agar ikhtiar membina toleransi harus terus menerus dilakukan semua pihak,” ujar Haedar.

Pekerjaan membina kematangan beragama dan bertoleransi tidak boleh berhenti. Kita, kata Haedartidak boleh terlalu yakin dan over optimis bahwa Indonesia paling damai dan toleran dalam beragama tanpa disertai ikhtiar berkelanjutan dalam pembinaan toleransi dan kedewasaan beragama.

Namun, lanjut Haedar, kita juga tidak perlu pesimis dan tidak boleh kehilangan kepercayaan diri dalam membangun kehidupan beragama, bermasyarakat, dan berbangsa denganjiwa yang lapang,  toleran, dan berkeadan utama.

“Semua perlu proses pembelajaran terus menerus sebagai bangsa yang besar dan majemuk. Semoga Allah SWT memberkahi bangsa Indonesia,” kata Haedar. (dzar)

 

Shared:
Shared:
1