Teknologi Informasi Berperan Besar Ubah Kebiasaan Masyarakat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 29 Juli 2016 19:51 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Kemajuan teknologi informasi di dunia semakin berjalan dengan cepat dan canggih. Tak terkecuali di dunia digital, televisi pun kini sudah bergeser menjadi televisi digital.

"Dalam konteks agama, misalnya, dunia informasi yang begitu  pesat itu, menggusur dan menggeser peran guru agama konvensional," ujar Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti saat menyampaikan pidato inti dalam acara diskusi publik Menyongsong Era Siaran Digital: Tantangan KPI Baru, di Aula KH. Ahmad Dahlan, Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jumat (29/7).

Sekarang, Mu'ti mengatakan, jika seseorang mau mengaji, tidak selalu harus mendatangkan guru mengaji ke rumah. Menurutnya, seseorang di era digital, bisa mengakses bahan-bahan untuk belajar agama cukup dari media yang ada di genggaman tangan mereka yaitu seperti telepon pintar.

Namun, terang dia, memang selalu ada resiko terkait cara belajar agama dengan cara tersebut. Karena tidak ada upaya untuk melakukan dialog atau interaktif untuk mengetahui kebenaran isi dari bahan dalam pembelajaran agamanya.

"Paling tidak, pada satu level dunia digital, dan dunia informasi, itu pasti merubah pola di dalam kita ini, bahkan beragama sekali pun," tuturnya kepada peserta diskusi.

Mu'ti menambahkan, kemajuan teknologi ini dalam banyak hal sangat berperan merubah kebiasaan masyarakat dalam berprilaku. "Oleh karena itu, maka dunia digital ini sebuah peniscayaan, yang siapapun yang tidak masuk di dalamnya, dia akan tergilas oleh waktu," jelas pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Flinders, Australia ini.

Jika seseorang tidak peka terhadap dunia digital, kata dia, maka ia akan menjadi orang yang tertinggal atau old fashioned. Yakni orang yang asing di tengah perubahan zaman,

Mu'ti mengatakan, televisi digital menjadi keniscayaan dan sebuah jawaban bagi masyarakat di dalam dinamika kehidupan abad 21.

Hanya, ia mengharapkan, dalam konteks ini, masyarakat perlu melihat dalam banyak sudut pandang ihwal era digital. Secara sekilas, pertelevisian ternyata telah menjadi dimensi bisnis tak terkecuali di Republik Indonesia.

Dan hal tersebut harus menjadi perhatian khusus. Apalagi, menurut Mu'ti, masyarakat Indonesia saat ini masih menjadi masyarakat yang dengar dan masyarakat yang melihat. Yaitu belum bergerak menjadi masyarakat bahasa dan masyarakat pikir.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa
Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1