Mahasiswa UMM Di Balik Indahnya Warna Warni Jodipan-Malang

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 23 Juli 2016 11:40 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG -- Kawasan warna-warni Jodipan, kota Malang, kini menjadi viral di media sosial dan media massa. Guys Pro, salah satu kelompok praktikum Public Relation (PR) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah mampu menyulap  pemukiman Jodipan yang semula tampak kumuh menjadi kawasan yang indah dan elegan. Perjalanan untuk mengubah pemukiman kumuh tersebut tidak sebentar. Delapan orang mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dibalik terbentuknya kampung warna warni tersebut.

Perjalanan tidak singkat tersebut berawal dari bulan Maret yang mana pada bulan itu kelompok Guys Pro terbentuk. Pada awalnya mereka menggaet perusahaan PT Indana Paint untuk mengawal salah satu event yang ada di perusahaan tersebut. Namun, perusahaan tersebut menawarkan untuk melakukan program Corporate Social Responsibility (CSR) milik PT Indana Paint dengan produk Decofreshnya tersebut. .

Sepanjang bulan April dan Mei, 8 Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM ini melakukan riset dan identifikasi terhadap lingkungan yang akan dituju. Hingga menemukan fakta bahwa Kelurahan Jodipan ini merupakan satu dari sebelas kelurahan yang tergolong kawasan kumuh. “Kami juga menemukan fakta, masyarakat Jodipan lebih senang membuang sampah di sungai, karena tinggal lempar saja. Selain itu, kebetulan tempat pembuangan akhir memang terlalu jauh dari pemukiman warga,” papar Nabila Firdausiyah, salah satu anggota kelompok Guys Pro tersebut.

Kelompok yang beranggotakan Nabila Firdausiyah, Salis Fitria, Ira Yulia Astutik, Dinni Anggraeni, Wahyu Fitria, Elmy Nuraidah, Fahd Afdallan dan Ahmad Wiratman mengaku mendapat inspirasi dari kawasan Kickstater, Rio De Janeiro, Brazil serta Kota Cinque Terre, Italia. “Beberapa kota seperti Italia dan Brazil menjadi contoh kami dalam mewujudkan kawasan Jodipan ini,” jelas mahasiswa semester 7 tersebut.

 

Setelah melalui tahap riset kemudian mereka diajak berkumpul dengan semua jajaran perusahaan untuk mempersentasikan ide mereka. Berbagai pertanyaan yang muncul dari pihak perusahaan dilontarkan dan ditanggapi oleh Guys Pro yang berujung manis yaitu persetujuan dari pihak perusahaan untuk mengaplikasikan ide tersebut di Kelurahan Jodipan RW 2 RT 6, 7 dan 9 tersebut. Dengan mengangkat tema “Decofresh Warnai Jodipan”, tim Guys Pro yang dibantu 10 tukang dan warga Jodipan memulai proyek tersebut dengan pembersihan genteng, tembok dan area yang akan di cat yang dilanjutkan dengan pengecatan. “Biasanya juga ketika hari libur masyarakat ada yang membantu dan bahkan masyarakat ikut menghias dinding rumahnya dengan lukisan-lukisan,” jelasnya.

Sebanyak 90 rumah yang berada di RT 6,7, dan 9 dicat dengan warna yang terang seperti kuning, merah, merah muda, hijau, biru dan semacamnya. Warna yang dipilih memang warna yang muda dengan tujuan agar indah jika dipandang dari kejauhan. Pengerjaan ini dilakukan sudah berjalan 5 bulan dan sudah menghabiskan dana 200 Juta. Untuk awal pengecatan di kawasan bantaran sungai menghabiskan dana 120 Juta dan untuk pengecatan 90 rumah dibutuhkan dana 80 Juta. Dana tersebut semua dari perusahaan.

Pada praktikum 2 ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM semester 6 berfokus berfokus pada Public Relations (PR) dan Event Management. Koordinator praktikum, Jamroji, juga menjelaskan bahwa praktikum ini mengajarkan bagaimana praktikan atau mahasiswa agar bisa mem-PR-kan event serta bagaimana menjadikan event sebagai bentuk media PR. “Dalam konteks ini juga kelompok Guys Pro berhasil mewujudkan hal tersebut meski memang ada kekurangan,” jelas Dosen Ilmu Komunikasi UMM tersebut.

Perjuangan kelompok ini sangat keras hingga mereka harus meninggalkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang seharusnya mereka tempuh di semester ini. “Program yang masih berjalan ini menjadikan ada 2 orang dari kelompok kami yang harus mengundurkan diri dari KKN dan terus memantau perkembangan di Jodipan ini,” cerita Nabil salah satu yang mengundurkan diri dari KKN. Kelompok ini banyak sekali mendapatkan pelajaran. Selain belajar riset lapangan mereka juga belajar bagaimana cara mendekatkan diri dengan masyarakat melalui cara konvensional. “Kita juga banyak belajar tentang manajemen event yang profesional karena perusahaan yang menjadi klien kita adalah perusahaan yang masih berkembang,” tuturnya.

Hingga saat ini pengerjaan proyek kampung warna warni ini sudah mencapai 80%. “Hanya tinggal atap rumah beberapa warga yang belum selesai, mungkin 2 minggu ini lagi prosesnya sudah selesai dan akan diresmikan diakhir bulan Juli ini, “ ujar mahasiswa asal Probolinggo tersebut.

Sejumlah langkah telah dilakukan Guys Pro UMM hingga akhirnya bisa menjadikan pemukiman kumuh berubah. Dengan bimbingan dari dosen, asisten praktikum dan berbagai pihak akhirnya konsep tersebut dapat diterima oleh perusahaan dan masyarakat Jodipan sendiri. Tidak hanya merubah pemukiman kumuh, Nabila mengaku juga ingin mendukung program Kota Malang menjadi Malang Creative City. Koordinator praktikum sendiri menyatakan sudah mencapai bahkan melebihi standrat yang ditentukan.

Dari sisi ekonomi, dengan berubahnya tampilan pemukiman tersebut, saat ini sudah mulai banyak orang yang berdatangan ke Jodipan hanya untuk berfoto dan menikmati keindahan warna di setiap tembok dan sudut jalan di daerah tersebut. “Karena sudah banyak pengunjung yang mendatangi Jodipan, maka masyarakat sudah mulai ada yang berjualan di sekitar area itu, seperti berjualan sepatu, makanan serta berdirinya lahan parkir yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” tambah Salis Fitria yang juga anggota kelompok tersebut.

Salah satu pengunjung Jodipan juga, Faisal Teguh Prasetyo, menuturkan Jodipan bisa dijadikan salah satu tempat wisata baru. Nuansa perkampungan yang sangat kental serta corak warna yang cerah menjadikan perkampungan warna-warni ini semakin menarik. “Biasanya saya bersama teman-teman ke sini hanya sekedar mengambil foto dan mengambil video untuk pribadi, dilihat dari jembatan atau dari dekat sama-sama bagus,” jelas warga Malang tersebut. Tidak hanya tembok rumah yang dicat namun juga tangga-tangga yang ada di daerah itu juga dicat dan dilukis seindah mungkin.  

Tantangan yang didapatkan kelompok inu juga sangat beragam. Mulai dari harus belajar tentang hal hal yang berkenaan cat kemudian harus meluangkan waktu ditengah-tengah kesibukan tugas dan perkuliahan dan lain sebagainya. “Banyak waktu yang harus dikorbankan dari awal hingga peresmian pada akhir Juli nanti. Tapi kami yakin Insya allah hasilnya juga akan memuaskan, “ tutup Nabila diakhir wawancara.

 

Kontributor : Abdul Jalil - Malang

Redaktur : Monaatalina

Shared:
Shared:
1