‘Sekejap Ia Bisa Datang, Sekejap Pula Ia Bisa Hilang’

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 22 Juli 2016 13:21 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Banyak orang di dunia ini merasa sudah beribadah. Namun, sesungguhnya, orang tersebut belum sampai untuk dekat dengan Allah, karena ibadahnya hanya berhenti di rukun syariah.

Suatu hari, Nabi Muhammad bertemu dengan sahabat yang tengah memaki hamba sahaya. Lalu, Nabi pun menghampirinya. Saat itu, adalah bulan Ramadhan. Nabi berkata, “Wahai sahabatku, lebih baik engkau makan gandum ini!” Sahabat itu kaget. Dan bertanya kepada Nabi, bagaimana mungkin Nabi Muhammad memberikan gandum tersebut, padahal dirinya sedang berpuasa.

Kemudian, Nabi pun bertanya, “Bagaimana kau puasa, tapi kau maki-maki hamba sahayamu?”

Demikian ulasan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menceritakan sebuah kisah Nabi Muhammad dengan sahabat dalam tausiyahnya di Silaturrahim Idul Fitri Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, di Masjid Mujahidin, Bandung, Selasa (19/7).

Kisah itu, menurut Haedar, menggambarkan suatu ibadah akan tidak bermakna jika tidak dihayati dengan sepenuh hati. Puasa seorang sahabat tadi, Haedar menjelaskan, adalah puasa yang hanya menahan dahaga dan lapar semata. Seyogyanya, kata dia, puasa seharusnya dapat melahirkan nilai kemanusiaan yang rahman dan Rahim. Bukan, dalam keadaan puasa, lalu memaki-maki seseorang. “Welas asih,” ujar Haedar.

Puasa, kata dia, menjelaskan tentang dimensi taqwa. Dalam konteks yang lain, fungsi puasa, yakni mengambil jarak dari dunia. “Tidak menjauhi dunia seperti ahlus sunnah menjauhinya. tetapi tidak juga tenggelam di dunia,” terang dia. Yaitu tidak seperti kaum materialis, yang serba materi, menenggelamkan diri di dalam dunia.

Maka makna la’allakum tattaqun, kata Haedar, yaitu supaya “Engkau berhati-hati.” Orang taqwa, terang dia, artinya orang yang berhati-hati, orang yang waspada, orang yang selalu cermat, orang yang takut kepada Allah. Seperti saat puasa, setiap orang harus berhati-hati dalam tingkah lakunya.

Dari dunia pun, kata Haedar, seseorang mesti hati-hati, cermat, atau waspada terhadap dunia. “Tidak menjauhi dunia, tapi juga tidak tenggelam pada dunia,” katanya menegaskan kembali.

Dalam silaturrahim di tanah kelahirannya ini di Bandung, Haedar berbagi mengenai bagaimana seharusnya seseorang melihat dunia dalam suatu dimensi, terkhusus tentang mencari harta. Karena, Haedar mengatakan, setiap orang harus mencari harta dengan cara yang ma’ruf.

“Dari mana harta itu kita peroleh, dan untuk apa kita gunakan,” ucapnya. Umat Islam wajib mencari harta dan dari harta itulah, setiap orang dapat berinfaq, bersedekah, lalu menjadi aghnia.

Haedar menuturkan, memang seseorang bisa saja meraih segala macam hal dengan cara yang tidak halal. Namun, dia melanjutkan, hal itu amat sangat tidak diajarkan oleh Islam. “Raihlah dengan cara yang halal dan toyyiban, tapi setelah dapat pun kita manfaatkan.”

Tak hanya soal harta, lanjut dia, umat Islam harus bijak menyikapi saat mendapatkan kekuasaan. “Kita jadi pimpinan Persyarikatan, yang di amal usaha, yang di pemerintahan, dimana saja, kekuasan itu amanah. Amanah itu datang dari Allah. Sekejap ia bisa datang, sekejap pula ia bisa hilang. Maka ia tidak abadi,” tuturnya. Haedar pun menegaskan, “Tetapi kekuasaan itu penting,.”

Mengutip Ibnu Qayyim, Haedar menjelaskan, kekuasan haruslah digunakan untuk membuat setiap orang menjadi semakin dekat dengan hal hal yang serba shaleh. Shaleh itu juga membangun, katanya. Artinya, seru Haedar, kekuasaan mesti digunakan untuk membangun suatu yang bermanfaat yang juga untuk orang banyak.

Dan sebaliknya, jangan sampai kekuasan itu justru mendekatkan diri kepada kemungkaran. “Konspirasi, upeti, korupsi, maka betapa tidak mudahnya kita memegang kekuasaan,” tegas lulusan doktor sosiologi UGM ini.

Di satu sisi, menurut dia, seseorang harus mengambil amanah kekusaan itu. “Kalo menghindar gampang sekali, dan pekerjaan yang paling mudah adalah menghindar dari tanggungjawab,” katanya.

Orang yang mengabaikan tanggungjawab memang akan selalu terlihat ‘bersih’ dari pekerjaan. “Maka orang tidak akan menilai yang buruk. Kalau Anda berjalan, pasti ada kesandungnya. Yang paling penting, jangan ingin terus kesandung aja. Tetapi ambil tanggung jawab itu, dan gunakan tanggung jawab itu dengan sebaik-baiknya,” terang Haedar.

“Jangan sampai Anda berambisi merebut posisi. Posisi itu akan menjadi beban berat bagi Anda sendiri,” katanya. Kekuasaan, menurut Haedar, boleh direbut kecuali ada hal-hal tertentu. Misalkan dihadapkan dengan situsasi krisis dan kejahatan merajalela. “Di situ kita harus rebut kekuasaan,” katanya. Semua itupun harus dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

“Ada sesuatu yang kompetitif, tapi tetep taqrobu illallah,” ucapnya.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1