UMM Berangkatkan 5099 Peserta KKN

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 22 Juli 2016 10:28 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, -- Sebanyak 5099 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi diberangkatkan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017, Selasa (19/7). Mereka ditempatkan di 116 Desa, 61 Kecamatan dan 17 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur.

Kepala Divisi KKN Direktorat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (DPPM) UMM, Amir Syarifudin, saat ditemui pasca pemberangkatan peserta KKN mengatakan, kegiatan yang diselenggarakan setahun dua kali, yakni di akhir semester ganjil dan genap ini merupakan pelaksanaan dengan jumlah peserta terbanyak sejak pertama kali diadakan pada 1987.

Amir melanjutkan, selain mengadakan program KKN reguler, pelaksanaan KKN periode ini menggandeng beberapa lembaga pemerintahan. Diantaranya dari Kementrian Sosial (Kemensos), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), juga Pos Pemberdayaan Keluarga (Pos Daya). “Misalnya nanti ada program keaksaraan fungsional yang akan dilaksanakan di Jabung. Selain itu Diknas juga akan mengadakan beberapa program di sejumlah desa di Sampang,” jelasnya.

Amir berharap, peserta KKN periode ini dapat menjalankan program-programnya dengan maksimal. “Saya berharap agar tawaran program kerja masing-masing kelompok bisa berjalan dengan baik serta tidak terdapat banyak permasalahan yang menghambat jalannya program KKN ini,” terangnya.

Rektor UMM, Fauzan berpesan agar peserta KKN UMM tidak menganggap masyarakat desa sebagai orang yang tidak berpendidikan. Ia mengingatkan mahasiswa harus bisa memperhatikan nilai dan norma yang ada di masyarakat desa. “Kalian hadir di tengah masyarakat, bukan sebagai komunitas yang bebas norma, baik agama maupun budaya. Warga akan menilainya, jangan ciptakan sesuatu yang bertentangan dengan itu,” tegasnya.

Fauzan juga menyampaikan bahwa  peserta KKN harus menghindari kelompok masyarakat desa yang memanfaatkan kehadiran mereka untuk menaikkan citranya di tengah konflik kepentingan masyarakat. “Mahasiswa diharapkan tidak berpihak dengan salah satu kelompok tertentu, tapi harus menjadi kelompok yang selalu memosisikan diri sebagai pemberi solusi bagi siapapun,” imbuhnya.(UMM-mona)

Shared:
Shared:
1