Gandeng Korea, UMM Kembangkan Biofuel

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 16 Desember 2011 15:37 WIB

 

Yogyakarta- Satu lagi terobosan dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam bidang energi baru dan terbarukan. Setelah sukses mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), reaktor biogas, solar cell dan lab penangkapan gas metan dari tempat pembuangan sampah akhir, kini UMM merambah pada green technologylain, yakni biofuel biodiesel dari tanaman jarak. Jika untuk lab gas metan UMM menggandeng BGP Engeneer Belanda, kali ini UMM bekerjasama dengan konsorsium Korean Energy Management Cooperation (Kemco).

 

Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, Prof. Dr. Bambang Widagdo, menerangkan kerjasama UMM-Korea sudah dirintis sejak beberapa tahun terahir. Bulan lalu, pihaknya bersama Wakil Direktur bidang Penelitian DPPM, Dr. Ir. Maftuhah, MP dan dosen FT UMM, Zamzami Septiropa, diundang ke Korea untuk mematangkan kerjasama tersebut. Kini giliran pihak Korea yang berkunjung ke UMM untuk segera merealisasikannya. Kedua belah pihak berdiskusi serius dengan tajuk “Collaboration Workshop on Green Technology” di ruang sidang senat UMM, Rabu (14/12/2011).

 

“Ini sesuai dengan konsentrasi UMM yang memutuskan kajian dan pengembangan energi alternatif sebagai tema rencana induk penelitiannya,” kata Bambang.

 

Bambang menambahkan, Konsorsium Korean Energy Management Cooperation (Kemco) yang terdiri dari pemerintah Korea, Hanwa Corporation, serta Korean Energy and Economic Institute (KEEI) akan menjadi investor. Sedangkan UMM sendiri menjadi partner konsorsium itu untuk penelitian dan pengembangan lahan tanaman jarak pagar (jatrofa). Sementara ini UMM sudah menyiapkan lahan seluas 150 hektar. Namun demikian lahan itu masih sangat mungkin berkembang sebab keistimewaan jatrofa tidak memerlukan lahan khusus karena bisa ditanam di lahan tidak produktif atau marjinal. “Ini bisa ditanam di semua lahan di Jawa,” tambahnya.

 

Perwakilan pemerintah Korea, In Ha Oh, mengaku senang bisa kolaborasi dengan UMM. Dia berharap proyek ini akan menghasilkan kontribusi untuk ketahanan energi di masa mendatang.

 

Hal senada diungkapkan rektor UMM, Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Persoalan kelangkaan energi sudah menjadi isu global sehingga perlu ditangani bersama-sama antar institusi, antar negara. “UMM menaruh isu energi baru dan terbarukan menjadi isu penting,” kata Muhadjir.

 

Workshop dihadiri perwakilan dari pemerintah Korea In Ha Oh, Hanwa Corporation Kelly Park, Dirjen Energi Baru Terbarukan Kementrian ESDM RI Dadan Kusdiana, Puslit Bang Bun Dr. Bambang Prastowo, Asosiasi Produsen Biodiesel (Asprobi) Paulus Tjakrawan, serta Ketua Tim Peneliti Jarak Nasional Dr. Ruly Dyah Purwati M.Sc. Hadir pula perwakilan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sebenarnya di UMM, penelitian jarak pagar sudah dimulai sejak tahun 2002. Penelitian tak hanya menyangkut produktivitas tanaman ini untuk bahan bakar, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan. Saat ini studi kelayakan itu sudah hampir rampung.


“Insya Allah tahun depan sudah bisa dimulai pengembangan dan uji coba produksi biofuel. Manfaat dari penelitian ini bagi masyarakat luas salah satunya adalah lahan yang termanfaatkan dengan ditanami biji Jatrofa selain menambah pendapatan, nilai yang paling strategis adalah memenuhi biofuel nasional juga internasional,” ujang Bambang yang juga Direktur CEERD (Center for Energy, Enviroment and Regional Development) UMM. (www.umm.ac.id)

Shared:
Shared:
1