Tanamkan Nilai Kemuhammadiyahan Melalui Fortasi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 18 Juli 2016 09:38 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, KUDUS—Forum Ta’aruf dan Orientasi (FORTASI) merupakan kegiatan awal yang wajib dilakukan saat memasuki ajaran baru di tingkat sekolah di bawah naungan Muhammadiyah. Sebagai kegiatan yang diharapkan dapat mencetak kader-kader terbaiknya, IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) harus bekerja keras untuk memaksimalkan kegiatan ini.

Zaki Hammam selaku ketua PD IPM Kudus pada Senin (18/7) ketika ditemui redaktur website muhammadiyah.or.id mengatakan jika IPM harus memaksimalkan kegiatan FORTASI ini, karena dari FORTASI para siswa baru diharapkan lebih mudah dalam mengenal lingkungan sekolah yang baru. Selain itu juga diharapkan jika para peserta didik baru mulai dapat menunjukkan jati dirinya.

“Seperti tahun-tahun lalu, dengan adanya FORTASI diharapkan para siswa baru dapat mengenal IPM dan disini kami menegaskan jika IPM tidak sama dengan OSIS. IPM lebih istimewa, karena semua kegiatan FORTASI sudah diatur oleh Pimpinan Pusat IPM dimana semuanya sudah jelas," ungkap Zaki.

"Untuk menanggapi soal peraturan pemerintah yang melarang perpeloncoan, sejak dulu sebenarnya kami sudah memberi contoh bagi sekolah-sekolah diluar Muhammadiyah, karena kami sama sekali tidak pernah melakukan perpeloncoan kepada siswa baru. Karena agenda dalam setiap FORTASI adalah untuk membentuk kader, sehingga sebenarnya pengkaderan awal bagi IPM adalah FORTASI ini," jelas Zaki.

Sebagai ortom Muhammadiyah, IPM memang diharapkan mampu bekerja lebih keras dan kerja yang nyata memang sangat dinantikan. Karena melalui pengkaderan awal yang dilakukan IPM ini para kader kedepannyadiharapkanakan lebih tertarik dan antusias untuk diajak dalam bekerja sama. Sehingga dalam melaksanakan perjuangan akan lebih menghasilkan sesuatu yang maksimal.

“Sebenarnya kami setuju jika pemerintah menerapkan sistem dihapuskannya perpeloncoan di sekolah-sekolah non Muhammadiyah, karena itu akan berimbas baik tentunya. Tapi kami juga kecewa jika sistem itu diterapkan di sekolah Muhammadiyah, karena semua yang sudah diagendakan dibatalkan semuanya dan untuk kepanitiaan diambil alih oleh guru," tambah Zaki.

 Hal ini tentu saja akan mematikan pengkaderan yang akan dilaksanakan oleh Pimpinan Ranting IPM, karena PR IPM sudah tidak dapat bergerak sebagaimana mestinya."Untuk itu perlu adanya koordinasi yang lebih ketat untuk mengatur FORTASI dan MOS di sekolah Muhammadiyah dan sekolah non Muhammadiyah. Karena sudah jelas jika kami tidak melakukan MOS, kami hanya melakukan FORTASI dan itu sudah berpedoman dari Pimpinan Pusat IPM," tegas Zaki.

Zaki berharap jika FORTASI ini akan melahirkan kader-kader terbaiknya, dengan semangat para generasi muda semoga apa yang diharapkan dapat terwujud walaupun ada beberapa kendala. Namun itu akan menjadi cambuk bagi para anggota IPM guna lebih kreatif dalam menyampaikan amanah yang ada dipundaknya. (adam)

Kontributor :  Drajat

Shared:
Shared:
1