Soal Penanganan Terorisme oleh Pemerintah, Busyro Muqoddas: Apakah Sudah On The Track?

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 16 Juli 2016 14:43 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Busyro Muqoddas menjadi salah satu anggota Tim Evaluasi Penanganan Terorisme yang dibentuk oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia. Tim yang beranggotakan 13 orang ini merupakan lembaga negara yang akan bekerja tiga bulan ke depan.

Busyro mengatakan, tim ini adalah sebuah kekuatan masyarakat sipil yang masih terawat hingga sekarang. “Tujuannya untuk memberikan evaluasi terhadap praktek pemberantasan terorisme oleh pemerintah, yang dalam hal ini dilakukan Polri, terutama Densus (Detasemen Khusus 88),” ujar Busyro kepada wartawan di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (15/7).

Selain Densus 88 Antireror Mabes Polri, Busyro menuturkan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pun menjadi perhatian tersendiri untuk dievaluasi terkait praktek-prakteknya dalam memberantas terorisme. “Apakah sudah on the track atau belum?” katanya.

Ia menjelaskan, pemberantasan terorisme itu harus sesuai prinsip-prinsip penegakkan moralitas hukum. Yang kedua, terang dia, juga harus sesuai dengan prinsip-prinsip penegakkan hak-hak asasi manusia.

Dan hal yang penting dalam memberantas terorisme, mantan Ketua KPK ini menambahkan, yaitu kejujuran. “Kejujuran penting,” tegas dia.  Kemudian, ke empat, tak kalah pentingnya, adalah transparansi  dalam proses penanganan pemberantasan terorisme itu sendiri. 

Tanpa hal tersebut, menurut Busyro, penegakkan hukum di Indonesia terutama dalam memberantas terorisme bisa termanipulasi. “Kami tidak ingin kalau proses-proses pemberantasan terorisme ini dinilai penuh dengan intransparansi, penuh dengan ketidakjujuran,” ujar dia.

Karena itu, Tim Evaluasi Penanganan Terorisme ini, katanya , justru ingin melakukan suatu upaya kajian yang komprehensif, detail, akademik, berbasis penegakkan induktif dan deduktif, fakta, teori, dan norma. Kajian dari tim tiga belas ini pun, sambung dia, sekaligus sebagai sumbangan kepada bangsa nantinya.

Busyro menjelaskan, Tim Evaluasi Penangan Terorisme sepakat bahwa bangsa Indonesia ini terus menerus mengalami proses reproduksi  atau produktifitas terorisme yang tidak ada juntrungnya. Bahkan hal itu, kata dia, sudah dimulai sejak 2001 atau 2002 hingga sekarang.

“Nanti kalau terus menerus seperti ini Indonesia lama-lama akan teropini sebagai negara yang subur dengan terorisme. Yang rugi adalah bangsa dan negara,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut Busyro, akan kontraproduktif bagi investor-investor Negara Indonesia. Jika terorisme ini terus berkembang, maka akan merugikan Indonesia sendiri. Busyro pun mengatakan, investasi akan berjalan dengan lancar jika Indonesia dalam kondisi yang aman dan nyaman.

Selain Busyro Muqoddas yang menjadi anggota Tim Evaluasi Penanganan Terorisme ini yaitu Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, Bambang Widodo Umar, KH. Salahuddin Wahid, Trisno Raharjo, Ray Rangkuti, Haris Azhar, Siane Indriani, Hafid Abbas, Manager Nasution, Franz Magnis Suseno, Magdalena Sitorus, dan Todung Mulya Lubis. 

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1