Muktamar HW Munculkan Peserta Tertua dan Termuda

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 15 Juli 2016 17:29 WIB

 

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA- Ada pemandangan menarik di Muktamar Hizbul Wathan (HW) ke-3 kali ini. Seorang anak berusia 16  bulan memakai seragam lengkap Pandu HW . Pemandangan itu pun sontak menjadi perhatian yang menarik bagi sebagain peserta pembukaan muktamar.

Andi Gunaryanto (24) dan Nurul Afida N (26) telah menikah selama 3 tahun dan memiliki seorang putra yang lahir pada bulan Februari lalu bernama Averoes Zafran Al Ghazi, perawakannya sangat lucu dan menggemaskan.  Andi dan Nurul pun sebenarnya adalah sesama kader Muhammadiyah. Andi adalah seorang kader Hizbul Wathan dan Nurul adalah seorang kader MDMC.

Andi dan Nurul pun sangat kompak dilihat dari pekerjaannya yang sekarang yaitu sama-sama menjadi perawat di sebuah Rumah Sakit Muhammadiyah. Dalam menjaga buah hatinya juga saling bekerjasama hingga sang ayah yaitu Andi mengajak putranya untuk mengikuti Muktamar HW di Solo ini ketika sang bunda sedang bertugas di rumah sakit PKU.

“Saya ingin menerapkan pengkaderan dini pada Zafran,” ungkap Andi.  Jawaban ini cukup menarik karena banyak masyarakat yang belum sadar dan peka untuk mau melakukan pengkadera dini demi masa depan Persyarikatan nantinya. Diketahui juga bahwa adik Zafran ini adalah peserta termuda dalam Muktamar HW Ke-3.

Selain itu, ada seorang Ramanda yang menarik perhatian, beliau nampak bersahaja dengan langkah yang tegap berjalan meski usianya tidak muda lagi. Namanya Moeslimin (80) lahir di Surabaya 11 September 1937. Saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Pengembangan Kwartir Pusat HW.

“Pekerjaan saya sekarang ya DRS (red Dirumah Saja),” ungkap Moeslimin.  Sampai saat ini beliau masih aktif dalam beberapa kegiatan HW.

“Moeslimin boleh sakit. Tapi sebagai pandu tidak boleh sakit,”  tegas Muslimin bila ditanya terkait kondisi kesehatannya. Moeslimin dulunya sama seperti remaja lainnya membantu orang tuanya untuk ikut perang melawan penjajah. 10 November 1945 adalah pengalaman perang yang paling berkesan untuk Moeslimin yang ketika itu ikut berperang menggunakan bambu runcing. Moeslimin sendiri bergabung dengan Kepanduan HW sejak 1947. Saat ini Moeslimin menjadi peserta tertua dalam Muktamar HW ke-3. (Syifa)

Redaktur: Adam

Shared:
Shared:
1