Dari Fenomena Mudik, Kelas Menengah Meningkat Ibarat Bentuk Ketupat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 15 Juli 2016 16:05 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas menilai fenomena mudik tahun 2016 yang melelahkan itu, menunjukkan naiknya kelas menengah. Ini dilihat dari banyaknya kendaraan pribadi seperti mobil yang digunakan untuk perjalanan pulang kampung hingga harus terjebak macet di mana-mana.

"Struktur masyarakat kita sekarang tidak lagi seperti piramid dimana jumlah masyarakat miskin yang ada di dasar piramid jauh lebih besar," ujar Anwar Abbas menjawab pertanyaan Muhammadiyah.or.id terkait kondisi ekonomi masyarakat Indonesia saat ini, Rabu (14/7).

Menurut Anwar, kondisi masyarakat Indonesia kini dapat diibaratkan seperti bentuk ketupat, bukan lagi piramid. Masyarakat menengah, kini, menjadi mayoritas dibandingkan dengan kalangan atas maupun kalangan bawah.

Anwar mengatakan, berdasarkan fenomena mudik lebaran tahun ini, terlihat kemacetan yang terjadi bukan hanya di pulau Jawa, namun juga di tempat tempat lain seperti Sumatra Utara, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Selatan. Kemacetan ini terjadi karena meningkatnya volume kendaraan terutama mobil ketika masyarakat melakukan tradisi mudik lebaran.

Itu, ujar Anwar, menandakan kesejahteraan masyarakat meningkat dengan bertambahnya jumlah kelas menengah yang semakin besar.

Doktor ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menuturkan, peristiwa mudik, selain memiliki makna sosial yang tinggi, mudik juga punya peran yang besar dalam membantu terciptanya pemerataan pendapatan. "Dengan mudik, maka uang juga mulai mengalir dari daerah perkotaan ke daerah pedesaan dan dari Jawa ke luar Jawa," jelas dia.

Hal ini, katanya, akan membuat daya beli masyarakat pedesaan semakin meningkat. Dan, kalau itu terjadi, kesejahteraan mereka tentu bisa meningkat.

Namun, Anwar pun mengingatkan, walau kelas menengah ini dinilai meningkat, tingkat pemerataan ekonomi yang berkembang cukup mencemaskan.

"Karena indeks gini kita sekarang sudah mencapai angka 0,43. Ini artinya tingkat kesenjangan sosial ekonomi masyarakat kita sudah semakin lebar dan melebar," katanya.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa
Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1