Ketua Muhammadiyah Jerman Jadi Khatib di Kota Duisburg

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 07 Juli 2016 12:17 WIB
MUHAMMADIYAH.OR.ID , Duisburg -- Perkembangan Islam yang dibawa oleh Indonesia di Jerman mulai terasa dari waktu ke waktu. Hal ini setidaknya dibuktikan dengan diadakannya sejumlah titik pelaksanaan shalat idhul fitri di beberapa kota di Jerman, salah satunya di Duisburg, sebuah kota yang terletak di Jerman bagian Barat di mana perkembangan umat Muslim di kota ini cukup signifikan. 
 
Sebagai salah satu organisasi Islam yang akhir-akhir ini telah menggeliat di kancah internasional, Muhammadiyah pun berperan aktif untuk mewarnai dakwah Islam di Jerman. Hal ini dibuktikan dengan tampilnya ketua Muhammadiyah Jerman atau yang dikenal dengan PCIM Jerman Raya, Ridho Al-Hamdi, sebagai khatib shalat Idhul fitri. Lokasi shalat ied dilaksanakan di sebuah gedung milik orang Turki yang terletak di Hochfeldstr. 2, 47053 Duisburg. 
 
Ridho mengatakan bahwa dirinya sudah diminta oleh pihak penyelenggara jauh-jauh hari sejak awal Ramadhan. Ketika panitia meminta dirinya menjadi khatib, kandidat doktor ilmu politik ini langsung mengiyakannya. Shalat ied ini diselenggarakan oleh Komunitas Muslim Ruhr (KMR). "Khutbah yang saya sampaikan adalah terkait tentang bagaimana menjadi Muslim yang kembali kepada fitrahnya yang suci, tentu dengan konteks di Eropa sini," terangnya.
 
Dalam khutbahnya yang kurang lebih memakan waktu 25 menit ini, Ridho mengawali penjelasan tentang makna puasa Ramadhan sebagai madrasah untuk mensucikan pribadi-pribadi Muslim menuju jiwa yang suci, jiwa yang kembali ke asal mula tanpa dosa. Selain itu, Ridho mencoba mengulas fenomena Islam yang akhir-akhir ini sering disudutkan oleh dunia Barat bahkan segala tindakan terorisme selalu dilekatkan dengan Islam.
 
Tetapi di balik itu semua, lanjutnya, kenyataan tidak membuat Islam terpuruk tetapi semakin menunjukkan adanya izzatul Islam (kemenangan Islam). Seraya mengutip hasil riset yang dirilis oleh sebuah lembaga independen Amerika Pew Research Institute, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menegaskan dalam khutbahnya, bahwa pemeluk Islam pada 2050 akan mendekati jumlah pemeluk Kristiani. 
 
"Jika umat Kristen prosentasenya 31 persen dari penduduk dunia, umat Muslim ada di 30 persen. Hampir sama. Di Eropa, jika umat Muslim di 2010 jumlahnya baru 43 juta, nanti di 2050 jumlahnya meningkat jadi 71 juta," terangnya.
 
Shalat ied ini diikuti oleh kurang lebih 300 jamaah yang datang dari berbagai kota. Mereka tidak hanya orang Indonesia saja, tetapi ada juga warga Muslim lokal Jerman maupun Muslim pendatang dari berbagai negara yang turut meramaikan suasana shalat ied tersebut. Jadi, dari anak-anak hingga usia senja berkumpul semua dalam suasana kegembiraan. 
 
Baca juga Syiar Takbir dari Tanah Kauman 
 
Penetapan 1 syawal oleh komunitas Muslim Jerman berbeda dengan beberapa negara di Eropa lainnya. Meski beberapa negara Eropa menetapkan 1 syawal jatuh pada 6 Juli 2016, sebagian besar Muslim Jerman menetapkan 1 Syawal jatuh pada 5 Juli. Mereka sama-sama menggunakan metode ilmu hisab. Beberapa negara lain juga sama dengan Jerman seperti Findandia, Swedia dan Irlandia.
 
"Meski Indonesia termasuk Muhammadiyah menetapkan 1 syawal jatuh pada 6 Juli, kami mengikuti keputusan Muslim Jerman. Minimnya jumlah warga Muhammadiyah juga tidak memungkinkan kita mengadakan shalat ied sendiri. Jadi, kita ambil hikmahnya saja seperti sebuah hadits yang artinya, perbedaan di antara ummatku dalah rahmat," ungkap Ridho.
 
Shalat ied dimulai pada pukul 09:00 pagi hari waktu setempat. Setelah shalat ied, jamaah melakukan jabat tangan untuk saling meminta maaf satu sama lain dan diakhiri dengan santap hidangan ala Indonesia. Momen-momen seperti ini menjadi kesempatan bagi warga Indonesia untuk menghilangkan kerinduan dengan masakan khas tanah air yg sulit dijumpai di Eropa. (QNs)
 
 
Baca juga :

Haedar Nashir : Media Sosial Kian Menggerus Keadaban Publik

2 Tokoh Muhammadiyah : Umat Muslim Indonesia Jangan Menjadi Intelektual Dollar

 

Shared:
Shared:
1