Haedar Nashir : Media Sosial Kian Menggerus Keadaban Publik

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 06 Juli 2016 12:29 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Dunia media sosial (medsos) kian menambah tergerusnya keadaban publik. Seseorang mudah sekali marah, menghasut, terhasut akibat sosial media. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Khutbah Idul Fitri yang diselenggarakan pada Rabu (6/7) bertempat di Alun-Alun Utara Yogyakarta. Sholat Idul Fitri tersebut semakin terasa istimewa dikarenakan turut hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

“Sifat tabayun,santun, dan lembut hati seolah menjadi barang langka di dunia virtual yang masif. Psikologi massa medsos cenderung liar, suatu kegilaan kolektif yang para aktornya justru merasa waras,” ungkap Haedar.

Zaman saat ini, dunia anak-anak dan perempuan pun dihadapkan banyak ancaman yang memerlukan advokasi moral dan sosial. “Kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan berada pada fase gawat darurat. Padahal seharusnya anak adalah permata hati keluarga dan tunas generasi yang akan menentukan nasib bangsa dan peradaban,” tambah Haedar.

Guna mengembangkan keadaban publik yang berkarakter utama itu, maka sangatlah penting keteladanan para pemimpin dan elite bangsa di seluruh lingkungan untuk menampilkan perilaku mulia.

“Ikan busuk dimulai dari kepala, demikian kata pepatah Italia. Penting untuk dibudayakan bahwa tidak seorangpun pemimpin dan pejabat publik di Indonesia dapat menduduki posisi, jika yang bersangkutan memiliki rekam jejak yang buruk,” jelas Haedar.

“Marwah seorang pemimpin itu terletak pada martabat dirinya yang luhur, termasuk perangai dan tutur kata,” tegas Haedar.

Selain itu, Haedar juga menjelaskan, pasca The Arab Springs umat Islam di Timur Tengah dilanda musibah konflik dan perang saudara yang mengancam masa depan mereka. Kehadiran ISIS (Islamic State of Iraq and Shiria) yang radikal menambah beban berat gejolak politik di kawasan Timur Tengah.

“Dalam kancah dunia arab yang bergejolak, peran Indonesia sebagai negara muslim terbesar untuk memediasi jalan damai sangatlah penting, dan menjadi harapan banyak pihak,” ungkap Haedar.

“Kita percaya umat Islam di Jazirah Timur Tengah dapat menemukan jalan baru guna membangun kembali peradaban yang damai, bersatu, dan berkemajuan,” tutup Haedar. (adam)

Shared:
Shared:
1