Ingin Rencanakan Mudik untuk 8 Tahun Kedepan ? Berikut Tanggal dan Bulannya !

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 02 Juli 2016 16:00 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA- Momentum Hari Raya Idul Fitri dimanfaatkan oleh sebagian lapisan masyarakat untuk melakukan tradisi mudik ke kampung halaman berkumpul dengan sanak saudara.

Terkait dengan merencanakan mudik, pastinya masyarakat membutuhkan jadwal yang berkaitan dengan penetapan 1 Ramadhan dan juga 1 Syawal untuk mengatur jadwal liburan dan juga pemesanan tiket, baik yang memanfaatkan jalur udara, laut, maupun darat.

Muhammadiyah dalam menetapkan 1 Ramadhan dan juga 1 Syawal menggunakan metode hisab Wujudul Hilal. Yakni memperhitungkan bulan baru berdasarkan hilal yang telah wujud. Muhammadiyah dalam hal ini telah merilis penanggalan 1 Syawal dan 1 Ramadhan untuk 8 tahun kedepan, yang dimulai sejak tahun 2015 hingga tahun 2024. Berikut ini rincian untuk penanggalan 1 Ramadhan 8 tahun kedepan yang dirilis Muhammadiyah :

Dan berikut ini jadwal penanggalan 1 Syawal yang dirilis Muhammadiyah untuk 8 tahun kedepan :

Baca Juga : Mengapa Pemerintah Bisa Menetapkan Awal Puasa Bersamaan? Ini Jawaban Majelis Tarjih

Seperti dijelaskan oleh Muhammad Rofiq selaku Wakil Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ketika dihubungi redaksi website muhammadiyah.or.id pada Sabtu (2/7) terkait dengan perhitungan Muhammadiyah dalam menetapkan 1 Ramadhan dan juga 1 Syawal. Pemerintah melalui Kementerian Agama menurut Rofiq menggunakan metode hisab Imkanur Rukyah yang mensyaratkan ketinggian hilal 2 derajat sedangkan Muhammadiyah menggunakan metode hisab Wujudul Hilal. “Sebenarnya ada banyak cabang dari metode Imkanur Rukyah yang mesyaratkan ketinggian hilal 4 derajat, 6 derajat bahkan lebih. Kebetulan pemerintah menggunakan metode yang mensyaratkan ketinggian hilal 2 derajat diatas ufuk,” ungkapnya.

Mengapa pemerintah menggunakan Imkanur Rukyah 2 derajat? Menurut Rofiq, angka 2 derajat tersebut diyakini menjadi syarat visibilitas hilal, atau dengan kata lain hilal kemungkinan dapat terlihat saat ketinggiannya mencapai minimal 2 derajat saat matahari tenggelam.  “Perbedaan mendasar dari metode Imkanur Rukyah 2 derajat, wujudul hilal tidak mensyaratkan ketinggian hilal. Apabila terjadi ijtimak atau konjungsi, dan matahari telah tenggelam dan bulan belum tenggelam berapapun ketinggiannya di akhir kalender bulan, maka dipastikan esoknya adalah bulan baru,” jelasnya. 

Baca Juga Selama 8 Tahun Mendatang, Perbedaan Awal Puasa Terjadi 2 kali, Kapan Saja?

Saat ini, Muhammadiyah tengah berusaha untuk dapat mengatasi perbedaan pelaksanaan puasa dan hari raya, bukan hanya di Indonesia tetapi di dunia Islam secara umum. Muhammadiyah melalui Ketua Majelis dan Tajdid pada akhir bulan Mei yang lalu hadir dalam Kongres Penyatuan Kalender di Turki. (adam)

(sumber : Oman Faturohman)

Shared:
Shared:
1