Ini Tujuh Kapasitas Diri Kader Yang Harus Dimiliki

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 01 Juli 2016 14:06 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG -- Angkatan Muda Muhammadiyah diminta untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin agar dapat meneruskan estafeta perjuangan dakwah dan amanah kepemimpinan di masa yang akan datang. Setidaknya ada tujuh kapasitas diri kader yang harus dimiliki oleh setiap aktivis Muda Muhammadiyah ini.

“Pertama, aqidah tauhid, terjauh dari takhayul, bid’ah dan khurafat.  Ideologi  gerakannya Muhammadiyah,” ujar Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Barat, Iu Rusliana,  saat acara buka puasa bersama dan silaturahmi Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat di Panti Asuhan Tunas Melati, Bandung, Kamis (30/6).

Kapasitas diri kader berikutnya, menurut Iu, adalah pendidikan dan pelatihan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang kader, kata dia, maka akan semakin baik kualitas dirinya. Rata-rata kader Pemuda Muhammadiyah, Iu memberitahukan, memiliki gelar sarjana, bahkan banyak juga yang telah menyandang gelar master dan doktor, atau tengah menyelesaikan studi doktoralnya.

“Ini kapasitas diri yang penting. Selain pendidikan, keterampilan yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan juga sangat penting untuk menempa diri,” tegas dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung itu.

Dalam kesempatannya, Iu mengatakan, pemahaman akan sistem nilai yang tengah berkembang dan kukuh kepada nilai-nilai keislaman menjadi modal penting seiring dengan terjadinya pertarungan nilai-nilai sosial ekonomi, budaya bahkan agama.

“Arus besar godaan kerap membuat kader muda tergelincir, seperti peluang korupsi. Semoga dengan pemahaman dan kesadaran kuat, kita tetap dapat menjaga integritas,” tuturnya.

Selain itu, pengalaman kepemimpinan di internal dan eksternal, lanjut Iu Rusliana, akan menjadikan kader muda sanggup tampil terdepan di ruang keumatan dan kebangsaan. Dia pun menyebutkan, distribusi kader keumatan dan kebangsaan menjadi agenda bersama Angkatan Muda Muhammadiyah.

Pengalaman kepemimpinan, Ia menilai, akan menjadi area pembelajaran untuk proses pengembanan amanah pada tahap yang lebih tinggi.

Kapasitas kader berikutnya adalah penguatan jejaring. Kader Pemuda Muhammadiyah, kata Iu, harus proaktif membangun jejaring lintas organisasi , agama, profesi dan negara. Di era globalisasi ini, setiap kader, tambahnya, harus terbuka dan selalu berlomba dalam kebaikan.

Pemuda Muhammadiyah juga, tak kalah penting, menurut pengamatannya, harus memiliki jejaring yang kuat ke media massa dan mampu memanfaatkan media sosial sebagai alat perluasan syiar dakwah.

“Bukan hanya dengan media massa, tapi juga memanfaakan media sosial. Ini gaya komunikasi kekinian. Kita tetap harus bisa memanfaatkannya sebaik mungkin,” saran alumni aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Barat ini.

Kapasitas diri yang ketujuh adalah etos kewirausahaan. Spirit ini lah, jelas Iu, yang menjadikan Muhammadiyah tumbuh sebagai organisasi yang berkembang melampaui satu abad dengan amal usaha yang berjumlah ribuan dengan total aset puluhan triliun rupiah.

“Warisan sejati dari K.H. Ahmad Dahlan adalah etos kewirausahaannya, memberikan nilai dan manfaat lebih bagi umat, masyarakat,” katanya.

Iu pun menerangkan, jika di Bangladesh ada Muhammad Yunus yang menggaungkan bisnis sosial, jauh sebelumnya, di Indonesia, Muhammadiyah telah berperan luar biasa, membebaskan, memberdayakan, memajukan dan mencerahkan bagi masyarakat.

Seusai acara buka puasa bersama ini, dilaksanakan juga Diskusi kader dengan tema “Merumuskan Jabar Berkemajuan” dengan narasumber para mantan Ketua PWPM Jawa Barat enam periode sebelumnya yaitu H. Tjutju Sachrum, Prof. Makhmud Syafii, H. Uum Syarif Usman, H Ugas Rahmansyah, Yusuf Kurnia dan Andri Yana.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1