Nasyiatul Aisyiyah : Wanita Harus Jadi Agen Perubahan Ekonomi ke Arah Lebih Baik

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 04 Desember 2011 12:34 WIB

 

 

Yogyakarta- Tanwir yang telah memasuki hari ketiga, Sabtu (3/12) disemarakkan dengan ceramah yang diberikan oleh kementrian kehutanan RI dan perwakilan dari APUNA (Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiah). Ceramah yang dilaksanakan pukul 09.30 sampai 11.00 tersebut menekankan kepada pentingnya wanita sebagai agen perubahan, dengan pemberdayaan secara ekonomi, perempuan bisa mandiri di tengah era globalisasi.

 

“Saat ini, banyak perempuan di negara kita hanya menjadi TKW (tenaga kerja perempuan) di luar negri, jika kita tidak bisa menciptakan pekerjaan di dalam negri, kita hanya bisa mengekspor tenaga-tenaga pembantu disana, dan akhirnya mental kita menjadi mental pembantu,” terang Ir. Tahrir Fathoni, M. Sc yang berasal dari Kementrian Kehutanan RI.

 

Menurut Fathoni, wanita itu potensial untuk melakukan berbagai kegiatan produktif untuk membantu ekonomi keluarga, contohnya dalam pengembangan usaha kecil menengah (UKM) atau koperasi. Disana wanita bisa berperan sebagai pelaku bisnis, pengelola, pembina ataupun sebagai tenaga kerja. Dengan peran tersebut, wanita berkontribusi aktif dalam proses recovery ekonomi.

 

Masalah kemiskinan yang dihadapi wanita sebagian besar karena kemiskinan struktural. Ini merupakan kondisi dimana sekelompok orang berada di salam wilayah kemiskinan dan tidak ada peluang bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan, mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan karena tidak mampu mengakses sumber-sumber sosial, ekonomi maupun politik.

 

“Ada program dari kementrian kehutanan untuk mengurangi kemiskinan struktural ini, yaitu kami memiliki program hak kelola tanah hutan, selain itu pemberdayaan perempuan dalam bidang kehutanan bisa dengan sistem bagi hasil penanaman tumbuhan, pengolahan non kayu seperti ulat sutera, jamur, arang, lalu pengembangan energi dan lainnya,” tutur Fathoni.

 

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan dari APUNA, yaitu Ibu Nindya yang kini menjadi pengurus BMT BUANA (Badan Usaha Amil Nasyiatul Aisyiah) di Sukoharjo menceritakan kiat-kiat serta kisah sukses dalam memanajemen BMT tersebut. Awalnya Buana merupakan sebuah koperasi yang kini menjadi koperasi jasa keuangan syariah. Tidak hanya pelayanannya yang syariah, namun sistemnya juga sudah syariah. Keberadaan BMT Buana ini juga sebagai jawaban atas keresahan masyarakat yang dulunya banyak terjebak oleh “Bank Plecit” dimana mereka dipinjami modal, namun akhirnya karena bunganya terlalu tinggi mereka tidak bisa mengembalikannya.


BMT Buana yang kini berusia 11 tahun, bisa tetap eksis karena mereka menerapkan sistem service excellence. Dimana sistem tersebut menekankan pelayanan nasabah dengan kualitas diatas rata-rata. Dengan sistem ini, mereka berusaha membuat nasabah tetap nyaman dan tidak beralih keproduk lain. Dasar dari pelayanan ini berasal dari penelitian yang menyebutkan bahwa 68% pelanggan beralih ke produk lain karena mereka kecewa akibat pelayanan yang buruk. Ceramah yang diikuti sekitar 130 peserta ini cukup menarik, banyak pertanyaan seputar pemberdayaan serta sharing atas permasalahan di area wilayah pimpinan NA diungkapkan di ceramah tersebut.  

Shared:
Shared:
1