Dituntut Mandiri, Mahasiswa Jangan Terpaku Dosen

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 04 Desember 2011 12:21 WIB

 

Yogyakarta- Perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan tertinggi selalu dituntut untuk memiliki dosen sebagai pengajar yang berkualitas. Tidak seperti guru, seorang dosen lebih diposisikan sebagai fasilitator pengembangan intelektual mahasiswa. Permasalahannya, mahasiswa baru seringkali terjebak pada lingkungan SMA dengan keberadaan guru sehingga kesulitan melakukan pengembangan diri.

 

Demikian disampaikan Ketua Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahim Abdurahim, SE., M.Si, Akt di sela-sela kegiatan Bridging Mahasiswa Akuntansi UMY 2011/2012, “Improving Your Intellectual and Moral Capacity toward Prospective Accountant” yang berlangsung sejak 3 Desember 2011 hingga 21 Januari 2012 mendatang, di Kampus Terpadu UMY.

 

Menurut Ahim, berbeda dengan guru sekolah yang benar-benar mengarahkan siswa, dosen lebih diletakkan sebagai pemberi ilmu dalam perkuliahan, dan fasilitator saja. Mahasiswa dituntut untuk tidak terpaku hanya pada apa yang diberikan oleh dosen di kelas. Mahasiswa sepantasnya mengembangkan pengetahuan mereka di berbagai sarana. “Dosen bukan segala-galanya. Logikanya, saat lulusan perguruan tinggi diwawancarai untuk masuk kerja, bukan dosen yang mewawancarai mereka. Mereka perlu referensi yang jauh lebih dari yang ada di perkuliahan” terangnya.

 

Mahasiswa juga dituntut untuk mandiri dalam memilih minat apa yang ingin mereka kembangkan. Fasilitas-fasilitas non-kulikuler, himpunan mahasiswa misalnya, dibentuk hanya sebagai sarana memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mahasiswa untuk berekspresi. “Universitas hanya memberi sarana, mahasiswa harus punya ide sendiri dalm mengadakan kegiatan seminar, lomba-lomba, atau kegiatan lain. Softskill seperti ini mengantarkan mereka ke pintu dunia kerja”, jelasnya.

 

Salah satu pengembangan intelektual lain menurut Ahim cukup berpengaruh terhadap dunia kerja adalah kemampuan menulis menulis ilmiah. Menulis secara ilmiah menurutnya dapat mengasah mahasiswa untuk berpikir runtut, sistematis dan logis. Di dunia kerja, hal semacam itu merupakan kemampuan dasar. Ditambah lagi dalam membuat keputusan secara akurat berdasarkan data yang akan ada dalam karya ilmiah dan dunia kerja.

 

Terkait dunia kerja, Ahim menilai, meskipun tugas dosen adalah sebagai pengajar di kelas, dukungan dosen yang juga berpengalaman sebagai praktisi Akuntansi tetap diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar perkuliahan tidak terpaku pada teori saja, sehingga mahasiswa memperoleh bayangan jelas. “Mahasiswa kedokteran saja pengajarnya seorang dokter. Mustahil jika seorang calon ahli keuangan daerah diajar oleh orang yang tidak tahu keuangan daerah itu seperti apa”, tandasnya.

 

Bridging Mahasiswa Akuntansi, merupakan program pengenalan dan penguatan kemampuan akademik serta softskill menghadapi sistem dan lingkungan belajar yang baru. Dalam program ini, para dosen akan memberikan sejumlah materi untuk tujuan tersebut, seperti kemampuan penulisan ilmiah, diskusi, presentasi, etika akademik, serta Bahasa Inggris. (umy.ac.id)

Shared:
Shared:
1