PIR Bukan Hanya untuk Melahirkan Muballigh

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 27 Juni 2016 13:30 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Sejak tanggal 26 Juni hingga 5 Juli 2016 Pondok Pesantren Budi Mulia menyelenggarakan Pengajian I'tiqaf Ramadhan (PIR) ke- 34 bertempat di Pondok Pesantren Budi Mulia.

Pembukaan PIR yang dilangsungkan pada Minggu (26/6) dibuka secara langsung oleh Yunahar Ilyas selaku Direktur Pondok Pesantren Budi Mulia. Dalam sambutannya Yunahar mengungkapkan. "PIR bukan wadah untuk melahirakan kader dan muballigh melainkan untuk melahirkan cendekiawan muslim yang ahli di bidangnya masing-masing," ungkapnya.

Yunahar menambahkan, peserta PIR diharapkan dapat menjadi pribadi yang memiliki pandangan dan tingkah laku yang mencerminkan seorang muslim yang memiliki wawasan yang utuh tentang Islam. "Peserta PIR harus menjadi penggerak dalam lingkungan masyarakat. Yang nantinya mampu menggabungkan antara zikir dan fikir," tambahnya.

Terlepas dari hal itu, Yunahar menjelaskan, Umat muslim saat ini sedang mendapatkan cobaan, seperti konflik yang terjadi di Suria, Mezir, Yaman, dan Irak. "Bagi kita umat muslim yang ada di Indonesia, jangan sampai kita mendapatkan informasi yang tidak benar terhadap konfil-konflik yang melanda umat Islam di belahan dunia lain, sehingga kita perlu melakukan tabayyun  terhadap informasi yang kita terima," jelasnya.

Kembali ditambahkan oleh Yunahar, Untuk mengatasi masalah ini, umat Islam perlu memperkuat ukhuwah islamiyah. "Jadilah seperti dua tangan yang saling membantu dan saling melengkapi dan jangan jadi seperti dua telinga yang tidak akan pernah ketemu. Seorang muslim diperintahkan untuk mencintai sodaranya melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri," tambah Yunahar.

Salah satu Ketua PP Muhammadiyah tersebut menjelaskan, banyak hadis-hadis Rasulullah yang mengajarkan kepada kita bagaimana membangun ukhuwah islamiyah, salah satunya juga adalah kita diperintahkan untuk mendahulukan kepentingan orang lain walaupun kita membutuhkan.

"Untuk membangun ukhuwah islamiyah tidak mesti menghapuskan ikatan primordialisme, seperti ormas-ormas, partai-partai dan kelompok-kelompok. Al-qur’an mengakuinya, bahwa kita diciptakan besuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling kenal-mengenal (ta’aruf)," ungkap Yunahar.

Dengan berta’aruf maka kita akan saling memahami (membangun tafahum), sehingga dengan saling memahami sesama umat Islam. "Bagi peserta PIR 34 maka kita akan tergerak untuk saling tolong-menolong (ta’awun). Sehingga nantinya mampu takaful (memberikan jaminan) kepada sesama," tutupnya. (mona)

Kontributor : Ilham Kamba

Redaktur : Adam Qodar

 

Baca juga

19 Jam Berpuasa Bukan Halangan Bagi Warga Muhammadiyah Jerman 

Akta Asli Pendirian RSI Purwokerto Tunjukkan Eksistensi Muhammadiyah 

Mengapa Ahmad Dahlan Tidak Dimakamkan di Kauman

 

Shared:
Shared:
1