Mengapa Ahmad Dahlan Tidak Dimakamkan di Kauman?

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 21 Juni 2016 10:34 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Muhammadiyah pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari Kampung Kauman Yogyakarta, begitu pula sebaliknya. Seperti diriwayatkan bahwasannya pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan merupakan putra kelahiran Kampung Kauman Yogyakarta. Selain itu juga, ikrar berdirinya Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan sosial terjadi di Kauman Yogyakarta.

Namun, saat ini yang masih menjadi pertanyaan kebanyakan orang adalah, mengapa KH. Ahmad Dahlan pada pengistirahatan terakhirnya, tidak dimakamkan di Kampung Kauman, melainkan di Kampung Karangkajen. Padahal jika diketahui sebelumnya, kontribusi dan besarnya KH. Ahmad Dahlan lebih banyak dihabiskan di Kampung Kauman.

Bermula dari pertanyaan tersebut tim redaksi website muhammadiyah.or.id mencoba menelusuri napak tilas pengistirahatan terakhir KH. Ahmad Dahlan. Salah satu narasumber yang dirasa cukup mengetahui hal tersebut yaitu Budi Setiawan yang merupakan Takmir Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta dan juga Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PP Muhammadiyah.

Ketika ditemui tim redaksi pada Jumat (17/6), Budi mengungkapkan. Sudah sejak lama warga Kauman memiliki dua makam, kalau tidak di Karangkajen yaitu di Kuncen. Sehingga jika KH. Dahlan dimakamkan di Karangkajen cukup masuk akal, karena warga Kauman juga banyak yang dimakamkan di Karangkajen, disamping itu Muhammadiyah berkembang pada masa itu salah satunya karena dukungan warga Karangkajen.

“Menjadi pertanyaan banyak orang, mengapa makam KH. Ahmad Dahlan berada di Karangkajen, sedangkan makam Nyai KH. Ahmad Dahlan dan tokoh Muhammadiyah lainnya berada di Kauman, karena ketika wafatnya Nyai Ahmad Dahlan, saat itu sedang terjadi penjajahan oleh Jepang, sehingga cukup sulit jika harus dimakamkan di Karangkajen, atas hal itu Nyai Ahmad Dahlan dimakamkan di pemakaman Kauman, dan dikuatkan pula bahwa Nyai Ahmad Dahlan merupakan putri kelahiran Kauman,” ungkap Budi.

Selain itu, juga terdapat ikatan historis, sosial, dan emosional berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah yang tak mungkin dapat dipisahkan antara kedua kampung tersebut, yaitu antara Kauman dan Karangkajen.

Setelah tim redaksi menyelusuri makam KH. Ahmad Dahlan yang beralamat lengkap di Kampung Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta Karangkajen, tepatnya berada di belakang Masjid Jami Karangkajen. Menjadi pertanyaan selanjutnya, mengapa tidak ada keistimewaan tersendiri makam sosok seorang KH.Ahmad Dahlan yang telah banyak berjasa dan turut mendirikan Bangsa Indonesia, melalui pendidikan dan aktifitas sosialnya.

Budi menuturkan, cukup banyak masyarakat dan bahkan tokoh-tokoh kenegaraan lainnya mempersoalkan makam KH. Ahmad Dahlan yang beridiri kokoh dengan kesederhanaan.

“Pernah berkali-kali diingatkan, salah satunya yaitu oleh Bung Karno, mengapa makam KH. Ahmad Dahlan seperti itu, kemudian Muhammadiyah menjawab kita menghormati KH. Ahmad Dahlan dengan meneruskan gerak perjuangan, dan mengembangkan amal usahanya, bukan makamnya,” ucap Budi.

Nisan dari KH. Ahmad Dahlan dibuat dengan sangat sederhana. Nisannya berupa batu bata yang direkatkan dengan semen sehingga terbentuk persegi panjang. Sedangkan pada bagian tengahnya dibuat kosong dan dihias dengan taburan batu kerikil. Jirat (nama) dari makam KH. Dahlan hanya satu, yakni berada di bagian kepala. Jirat tersebut bertuliskan nama KH. Ahmad Dahlan. Selain itu, nisan dari KH. Ahmad Dahlan diletakkan berdampingan dengan nisan kerabat dan juga keturunannya.

Kesederhanaan akan Makam KH. Ahmad Dahlan tersebut juga diutarakan oleh Ida Siti Walida yang merupakan penziarah Makam KH. Ahmad Dahlan ketika ditemui pada Kamis (15/6). “Saya sudah sering berkunjung ke makam ini, selain berziarah ke makam KH. Ahmad Dahlan, juga mengunjugi makam Ayah dan Ibu saya yang kebetulan di makamkan disini juga,” tuturnya.

“Sosok KH. Ahmad Dahlan yang terkenal akan kesederhanaanya turut tergambar dari Makamnya, tidak ada keistimewaan dari Makam tersebut, saya turut mendoakan beliau karena KH. Dahlan merupakan panutan dan contoh bagi masyarakat, melalui sosoknya yang sederhana dan wibawa,”ucap Ida.

“Hal tersebut dapat terlihat dari kontribusinya dengan bangsa ini, melalui pendidikan, kesehatan, dan sosial yang telah didirikan KH. Ahmad Dahlan untuk Indonesia,”tambah Ida.

Sementara itu, Nur Syamhudi yang merupakan penjaga makam Karangkajen mengungkapkan, cukup banyak masyarakat yang berziarah ke makam KH. Ahmad Dahlan setiap harinya. Penziarah datang tidak hanya saat bulan suci Ramadhan saja, melainkan juga pada hari-hari biasanya.

“Penziarah yang datang ke makam KH. Ahmad Dahlan cukup banyak, namun jumlah penziarah lebih tinggi saat bulan suci Ramadhan. Berdasarkan dari daftar tamu penziarah makam KH. Ahmad Dahlan, kebanyakan penziarah yang datang berasal dari Jawa Timur, yaitu dari Gresik, Jepara,” ungkap Nur.

 Senada dengan Ida, Nur juga mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan antara makam KH. Ahmad Dahlan dengan makam-makam lainnya. “Sudah dari dulu makam disini yaa seperti ini, tidak ada perubahan maupun perbedaan, semua sama,” ujar Nur.

Jika dilihat, sosok KH. Ahmad Dahlan selain sebagai tokoh yang membawa kebangkitan bangsa melalui kesederhanaannya juga telah menjadi inspirasi oleh banyak kalangan masyarakat. Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:

  1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

 

Reporter : Adam Qodar

Baca Juga

Shared:
Shared:
1