Muhammadiyah Berbagi Pengalaman Penerapan Sekolah dan Rumah Sakit Aman Indonesia di Korea Selatan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 21 Juni 2016 10:24 WIB

Suwon, Korea Selatan  –  Rahmawati Husein, Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) pada tanggal 17-18 Juni 2016 berbagi pengalaman penerapan pengurangan risiko bencana di Indonesia, khususnya mengenai program “ Safe Schools and Safe Hospitals” ,  pada International  Conference of Disaster Reduction (ICDR) di Kota Suwon, Korea Selatan.

Konferensi Internasional yang dihadiri pembicara dari berbagai negara di antaranya Indonesia, USA, Jepang, China, dan Nepal dibuka oleh Menteri Keselamatan Publik dan Keamanan. Rahmawati yang merupakan alumni Texas A&M ini menyampaikan presentasi dengan judul "Mengurangi Resiko dan Meningkatkan Kapasitas: Pembelajaran Program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Indonesia".

Lebih lanjut Rahmawati menyampaikan bahwa inisiatif pengurangan risiko bencana melalui sekolah dan rumah sakit ini merupakan bagian dari implementasi prioritas pada kerangka kerja internasional untuk pengurangan risiko bencana baik pada Hyogo Framework 2005 – 2015 dan Sendai Framework 2015 – 2030.

 

Sekolah Aman

Rahmawati yang juga unsur pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini, inisiatif pelaksanaan program Sekolah Aman di Indonesia  sudah berkembang baik, pemerintahpun mulai mencanangkan sejak diberlakukannya UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. “Program sekolah aman bertujuan meningkatkan keamanan bangunan sekolah dan fasilitasnya serta meningkatkan kesadaran guru, murid dan karyawan tentang risiko bencana dan bagaimana melakukan kesiapsiagaan,” papar Rahmawati.

“Di samping itu pengurangan risiko bencana juga dikenalkan melalui kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler,” tambahnya.

Rahmawati juga menjelaskan bahwa di Indonesia sudah ada ribuan sekolah yang terlibat dalam program Sekolah Aman dengan pelaku implementasi yang terdiri dari lembaga swadaya masyarakat, organiasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, lembaga usaha dan pemerintah daerah. “Baik yang berfokus pada bagian - bagian tertentu maupun yang dilakukan secara komprehensif,” jelasnya.

 

Rumah Sakit Tertinggal

Pada paparan tersebut, Rahmawati menyampaikan bahwa program Rumah Sakit Aman agak kurang berkembang dibandingkan dengan Sekolah Aman dengan pelaku program yang sedikit dan implementasi yang masih terbatas. Dan saat ini Muhammadiyah menjadi pelopor penerapan program Rumah Sakit Aman ini dalam program bertajuk HPCRED (Hospital Preparedness and Community Readiness/ Kesiapsiagaan RS dan kesiapan Masyarakat utk Kedaruratan dan Bencana).

Pada pelaksanaan program HPCRED, Muhammadiyah bekerjasama dengan pelaku dan pemangku kepentingan bidang kesehatan bencana seperti Kementrian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan, BNPB, Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI). Rahmawati yang kesehariannya menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut berharap pengalaman Indonesia dengan dua program tersebut dapat dijadikan referensi negara lain untuk melakukan program sejenis. (Arif_mdmc/mona)

 

Shared:
Shared:
1