Pemuda Muhammadiyah Ingin Ungkapan Koruptor Diganti Menjadi Maling

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 18 Juni 2016 12:40 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mendesak setiap elemen agar istilah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diganti menjadi Komisi Pemberantasan Maling (KPM).

“Ganti aja koruptor itu dengan ungkapan maling, jadi KPM, Komisi Pemberantasan Maling,” tegas Dahnil dalam Pembukaan Konvensi Anti Korupsi 2016 Pemuda Muhammadiyah, Jum’at (17/6) malam. Pemuda Muhammadiyah, kata dia, ingin mengganti istilah koruptor dengan nama yang lebih familiar di telinga masyarakat yaitu maling.

Karena, menurut Dahnil, istilah koruptor merupakan istilah elit. Walaupun telah menyandang predikat sebagai koruptor, katanya, mereka masih berpenampilan keren dan bergaya layaknya selebritis. Dahnil mengajak masyarakat untuk melibatkan perasaannya dalam bersikap terhadap koruptor, karena merekalah yang menjadi sumber masalah peradaban bangsa.

Selain itu, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia khususnya anak muda untuk merapatkan shaf dalam melawan korupsi. “Semua sadar gerakan anti korupsi itu penting, tapi sedikit yang mau masuk ke gerakan anti korupsi,” terangnya.

Terkait Konvensi Anti Korupsi 2016 ini, Dahnil mengatakan, memang diinisiasi oleh Pemuda Muhammadiyah dalam rangka menderivasi visi dan program yang sudah diinisiasi oleh Muhammaidyah dalam Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (23/5). Ia mengatakan, hambatan utama untuk mewujudkan  Indonesia berkemajuan adalah korupsi.

Korupsi, papar Dahnil, menghambat pembangunan jalan, pembangunan sekolah, dan  merusak peradaban Indoensia. Dahnil mengutip hipotesis Mohammad Hatta bahwa korupsi di Indonesia sudah membudaya. Untuk melawan budaya korupsi itu, kata dia, harus dibangun budaya baru yaitu budaya anti korupsi.

“Fardu ‘Ain hukumnya, anak muda itu ikut gerakan anti korupsi,” tutur Dahnil menyoal gerakan anti korupsi yang disuarakan oleh PP Pemuda Muhamamdiyah sejak satu setengah tahun yang lalu. Dahnil juga menegaskan, untuk membangun budaya anti korupsi harus dimulai dari diri sendiri.

“Ini usulan serius, gerakan ini sebagai gerakan kebudayaan,” ujar Dahnil menegaskan perkataannya kembali mengenai pergantian istilah koruptor menjadi maling.

Pemuda Muhammadiyah pun ingin membangun budaya di Indonesia untuk ditopang oleh gerakan politik seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang juga diinginkan Pemuda Muhammadiyah berubah nomenklaturnya menjadi Komisi Pemberantasan Maling (KPM). Agar, kata dia,  akselarasi gerakan kebudayaan anti korupsi berjalan dengan lebih cepat.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1