Ini Tiga Keistimewaan Pancasila Menurut Peneliti Politik

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 15 Juni 2016 19:50 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, CIREBON -- Peneliti politik, Prof. Mochtar Pabottingi menyatakan bahwa Pancasila merupakan patokan yang paling diperlukan dalam membangun Negara Indonesia. “Pancasila itu demokrasi, kedaulatan yang demokrasi,” ujar Mochtar dalam Pengkajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kantor Jakarta 1437 H, di Convention Hall Universitas Muhammadiyah Cirebon, Cirebon, Selasa (14/6).

Mochtar mengungkapkan, ada simbolis antara demokrasi dan bangsa yang tidak bisa dipisahkan. Selain itu, kata Mochtar, teologi yang dianut oleh bangsa Indonesia sejiwa dengan Pancasila itu sendiri.

Mochtar menyebutkan, terdapat tiga keistimewaan yang ada pada Pancasila. Pertama, pengamat politik kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan ini mengatakan, Pancasila diciptakan dengan persyaratan esensial dari semua produk demokratis. Juga, keabsahan prosedural dan subtansial.

Produk demokratis yang dimaksud, kata Mochtar, ialah anggota yang terhimpun dalam perumus Pancasila. Ini terdiri dari orang-orang yang sungguh-sungguh mewakili setiap golongan masyarakat di Indonesia.

“Orang yang bukan asal,” ujar Mochtar. Sampai akhirnya tercipta keputusan yang sungguh-sungguh dari hasil rumusan Pancasila.

Kedua, Pancasila itu kukuh dan kuat. Menurut Peneliti Utama  bidang perkembangan politik nasional LIPI ini, sila-sila dalam Pancasila bersatu satu sama lain dan tidak dipisahkan.  Pancasila lahir dari kristalisasi pendalaman pengalaman dan jalan hidup bangsa selama ratusan tahun. Yaitu sejak jaman penjajahan hingga masyarakat ditindas dan diperas seluruh sumber dayanya. 

Kemudian, Mochtar menyampaikan, Pancasila terlahir dari suatu faktor historis. Memiliki nilai moralitas, integritas dan kompetensi yang tertanam di dalam ruh Pancasila.

Selain itu, terdapat nilai demokrasi dalam Pancasila, yang memperlakukan manusia secara utuh. Karena, ia menuturkan, sebenarnya manusia memiliki ciri keluhuran dan memiliki sifat-sifat illahiyah.

“Demokrasi menjadi tangga-tangga kebangkitan,” kata Mochtar ihwal demokrasi dalam Pancasila. 

Menurut Mochtar, dalam berbangsa harus sama-sama saling bahu-membahu dan berpegang erat. Dengan demokrasi, sambung dia, bisa timbul rasa cinta dalam berbangsa dan saling mendukung untuk terciptanya cita-cita bangsa.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1