Perpustakaan On The Street, Solusi Melek Membaca

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 15 Juni 2016 10:33 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, LAMPUNG -- Berdasarkan hasil survei yang pernah dirilis oleh berbagai lembaga survei secara global, dikemukakan bahwa Indonesia memiliki minat baca yang rendah daripada negara-negara lainnya. Minat baca dalam konteks media bahan bacaan berupa buku kian tertinggal oleh arus teknologi, di mana banyak masyarakat mulai beralih menggunakan aplikasi dari smartphone, android, gadget dan lain sebagainya.

Menyikapi hal tersebut, Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Way Kanan, Lampung turut andil memberikan peran kepada masyarakat dengan cara turun langsung menyedikan ruang publik, khususnya perpustakaan yang dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Salah satunya yakni dengan menggelar perpustakaan on the street. Kegiatan yang berupa menyediakan buku bacaan tersebut dilakukan dengan mendatangi lokasi-lokasi strategis.

 “Selama bulan Ramadhan ini setiap hari Sabtu dan Minggu kami ke komplek taman Tugu Ryacudu membawa 200 buku. Setelah itu banyak juga orang-orang yang mendekat lalu membaca buku-buku itu," ungkap Eko Prasetyo, salah satu kader Pemuda Muhammadiyah Way Kanan sekaligus Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Way Kanan ketika ditemui pada Selasa (14/6).

"Buku yang kami bawa juga sangat beraneka ragam mulai dari buku cerita anak-anak, buku agama, buku pertanian dan buku ilmu terapan lainnya,"pungkas Eko.

Menurut Eko, Pemuda Muhammadiyah dengan gerakan literasi ini merupakan wujud dakwah utnuk mengajak masyarakat memiliki wawasan dan pengetahuan dari buku bacaan.

“Gerakan literasi ini adalah bentuk dakwah yang dilakukan oleh Pemuda Muhammadiyah Way Kanan, yang mengajak kepada kemaslahatan. Sebab dengan membaca maka masyarakat dapat terentaskan dari kebodohan. Dengan membaca sudah pasti akan memperoleh ilmu pengetahuan dan wawasan," kata Eko.

Seringkali masyarakat, lanjut Eko, malas meluangkan waktu ke perpustakaan. Hal itulah yang mendasari Pemuda Muhammadiyah Way Kanan melakukan gerakan literasi dengan cara ‘menjemput’ masyarakat untuk membaca buku melalui perpustakaan on the street.

“Aktifitas positif untuk mengisi waktu luang saat bulan Ramadhan yaitu dengan membaca. Tapi orang-orang jarang rela meluangkan waktu untuk datang ke perpustakaan, baik itu yang disediakan oleh pemerintah maupun sekolah-sekolah. Sehingga dengan cara saya yang datang langsung dengan membawa buku kepada mereka, membuktikan bahwa mereka masih berminat untuk membaca.” jelas Eko.

Eko juga menuturkan bahwa yang perlu dilakukan saat ini adalah menumbuhkan pejuang-pejuang literasi yang bersemangat mengajak masyarakat untuk gemar membaca. Selain itu juga berupaya menciptakan perpustakaan-perpustakaan baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam memperoleh bahan bacaan.

“Contohnya untuk Kabupaten Way Kanan ini, dari 221 kampung ternyata baru ada 31 kampung yang ada perpustakaannya. Maka yang diperlukan adalah bagaimana cara yang inovatif agar dapat mengembangkan minat baca masyarakat di tengah minimnya jumlah perpustakaan. Salah satu caranya yaitu dengan menyediakan ruang publik yang dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat.” tutupnya. (abey/mona)

 

Kontributor : Eko.P

Redaktur : Adam Qodar

Shared:
Shared:
1