Abdul Mu’ti: Indonesia Tidak Tersekat Karena Suku, Agama dan Kelas Sosial

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 14 Juni 2016 21:32 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, CIREBON -- Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah , Abdul Mu’ti mengatakan, Muhammadiyah mengaktualisasikan Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah dalam perspektif pemikiran. Ini, dibuktikan dengan peran Muhammadiyah yang membangun bangsa melalui bidang pendidikan. Yakni dengan membangun integrasi sosial melalui pendidikan yang inklusif.

“Muhammadiyah membangun Indonesia tidak tersekat karena suku, agama, dan kelas sosialnya,” ujar Mu’ti saat menyampaikan materi Aktualisasi Negara Pancasila sebagai Dar al-Ahd wa al-Syahadah: Sosial, Budaya dan Pendidikan  saat Pengkajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kantor Jakarta 1437 H, di Convention Hall Universitas Muhammadiyah Cirebon, Cirebon, Selasa (14/6).

KH. Ahmad Dahlan, jelas Mu’ti, memilih pendidikan sebagai implementasi untuk membangun bangsa. Itu, kata dia, karena pendidikan dapat mencapai semua lini dalam masyarakat. Baik dalam segi agama,sosial, maupun budaya agar siapapun yang mengenyam bangku pendidikan dapat merasa nyaman di dalamnya.

“Ini sumbangan besar untuk integrasi nasional,” kata dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Mu’ti menyebutkan tiga hal yang merupakan kontribusi Muhammadiyah dalam membangun bangsa Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan yang inklusif. Pertama, inklusif sosial yang artinya pendidikan Muhammadiyah melayani masyarakat secara keseluruhan. Dalam lembaga pendidikan, ungkap Mu’ti , Muhammadiyah tidak ada sekat sosial karena strata sosialnya.  

“Semua orang berbaur menjadi satu. Sekolah Muhammadiyah yang dekat dengan masyarakat,” kata Mu’ti ihwal pendidikan inklusif yang dilakukan Muhammadiyah. Menurutnya, kaum elit memiliki posisi strategis dalam peran sosial bangsa Indonesia.

Kedua, papar Mu’ti, pendidikan liberatif yang berbeda dengan lliberal. Liberatif, kata Mu’ti, merupakan pendidikan yang membangun jiwa merdeka. Muhammadiyah, lanjut Mu’ti, berusaha keluar dari tradisi dengan melakukan inovasi pendidikan, inovasi kelembagaan, dan kurikulum dan metode pembelajaran.

Muhammadiyah, ia menuturkan,  berani membangun sistem dan berani keluar dari tradisi yang ada.  Muhammadiyah menjadikan pendidikan sarana untuk melakukan  transformasi sosial.

“Agent of change,” ujar Mu’ti, pria asal Kudus yang sempat mengenyam pendidikan di Universitas Flinders, Australia itu.  

Negara Pancasila, kata Mu’ti, sebagai Darus Syahadah telah melakukan tranformasi dari langkah KH Ahmad Dahlan. Langkah sosial ini sesungguhnya dilandasi nilai-nilai tauhid. Islam itu, ujarnya, bukan agama dalam suku tapi agama seluruh umat manusia.

Dalam berdakwah, terang Mu’ti, Muhammadiyah  tidak menggunakan simbol tapi substansiallisasi dalam ajaran Islam melalui pendidikan. “Itu makna persatuan Indonesia melalui pendidikannya,” tutup Mu’ti di depan ratusan peserta Pengkajian Ramadhan yang juga pimpinan daeran dan wilayah Muhammadiyah itu.

Reporter: Ilma Aghniatunnisa

Redaktur: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1