Taufik Abdullah: Landasan Ideologis Berdirinya Indonesia Melalui Pengorbanan Para Leluhur Bangsa

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 11 Juni 2016 17:29 WIB

BANTUL, MUHAMMADIYAH.OR.ID – Kehidupan kenegaraan tidak bisa lepas dari harapan dan sikap dari warga negaranya. Sebuah Negara mampu berkembang dengan baik apabila harapan dari warga negara dapat terlaksana dengan baik.

“Pada dasarnya warga negara merupakan masyarakat dan hamba Allah yang ditempatkan dalam konteks kenegaraan, namun pada dasarnya warga negara tetap manusia biasa,” kata Sejarawan Indonesia sekaligus Mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Taufik Abdullah.

Taufik menambahkan seorang pemimpin yang ideal tidak hanya adil dan bijaksana, namun juga harus paham dengan hasrat dan impian rakyatnya. Hal ini kembali pada kearifan pribadi dan kesediaan mendengarkan nasihat dari para cendekiawan dan ulama, serta adanya pemahaman akan ajaran moral yang bernafaskan keagamaan.

Republik Indonesia merupakan negara yang didirikan melalui pengorbanan bangsa. “Sebuah kenyataan historis bahwa Republik Indonesia dengan landasan ideologis kenegaraan bernama Pancasila adalah sebuah Negara yang didirikan melalui pengorbanan bangsa,” katanya.

Taufik juga menjelaskan terkait proses berdirinya Republik Indonesia melalui berbagai dinamika perubahan konteks kenegaraan. Indonesia memasuki berbagai periode, seperti demokrasi terpimpin yang mana sistem ini mengaburkan batas-batas fungsional dalam sistem pemerintahan. Demikian juga pada era Orde baru, masyarakat diharuskan mengikuti indoktrinasi dari pemerintah.

“Pada akhirnya semua ingin kembali kepada cita-cita luhur bangsa di mana bangsa memiliki kesatuan etis, memantapkan tekad Negara yang adil dan makmur bedasarkan Pancasila,” ungkap Taufik.

Di akhir sesi ini Taufik menekankan bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 masih harus ditekankan sebagai pedoman dan pegangan baik sebagai manusia dalam konteks kehidupan kemasyarakatan maupun sebagai warganegara dalam paparan kenegaraan. (mona)

 

Kontributor : Nuur Wachid

Shared:
Shared:
1